VAMANA

Hazsef
Chapter #7

Sentuhan Misterius

Sisa-sisa bau busuk dan kepanikan masih mengurung tenda kedua. Sementara di tenda pertama—yang berjarak hanya dua meter dari sana—kepanikan serupa menyelimuti, meski dengan konteks yang berbeda.

​“Ndra ... Zi ...,” bisik Santoso memelas, suaranya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram lengan baju Indra. “Temenin gue kencing dong. Gue takut nih ...”

​Indra menepis tangan pria gondrong itu dengan kasar. Wajahnya sendiri sama pucatnya. “Ogah gila! Lu kira gue nggak takut? Kencing aja di botol kosong situ!” tolaknya mentah-mentah.

​“Iya, anj*nk! Jangan ngadi-ngadi lu! Di luar ada yang cakar-cakar tadi! Kalo ada macan, gimana?” sahut Rozi yang sudah membungkus seluruh tubuhnya dengan sleeping bag seperti kepompong. Mereka bertiga sesekali melirik ke arah Adrian dan Pigi yang secara tak masuk akal masih mendengkur halus.

​Di tengah perdebatan sengit namun berbisik itu, perhatian ketiganya mendadak tersita oleh suara dari arah pintu tenda mereka.

Sreeeet ...

​Ritsleting pintu tenda itu mendadak bergerak perlahan. Terbuka dari arah luar ke atas, menciptakan celah hitam yang menganga.

​Mata Santoso nyaris melompat dari rongganya. “Eh, anj*nk! Resletingnya kebuka sendiri, anj*nk!” desisnya histeris namun tertahan.

​Udara malam sabana yang sedingin es seketika menyerbu masuk, membekukan tulang kering mereka. Kepanikan pecah. Santoso langsung melompat panik ke tengah-tengah, menyelipkan tubuh besarnya di antara Indra dan Rozi.

Ketiganya berebut menarik selimut dan sleeping bag, menutupi tubuh mereka rapat-rapat sambil gemetar hebat, tak berani menatap ke arah pintu yang kini terbuka separuh.

​Hening merayap. Hanya ada deru angin. Sebelum akhirnya, sebuah tangan sedingin es menyelinap masuk dari kegelapan, meraba-raba matras, dan langsung menggenggam erat pergelangan kaki Santoso yang kebetulan menyembul keluar dari selimut.

​Santoso langsung kaku bagai disambar petir. Napasnya tercekat. “Eh, ada yang nyentuh kaki gua, anj*nk! Ada yang nyentuh kaki gua!” isaknya sambil mencengkeram kerah baju Indra dan Rozi dengan kekuatan penuh, nyaris mencekik kedua temannya itu.

Lihat selengkapnya