[05:30 WIB] Area Kamp Sabana Varuna
Fajar menyingsing di Gunung Vamana, namun matahari seolah enggan menampakkan diri seutuhnya. Cahayanya hanya pendaran putih pucat yang tertahan oleh pekatnya kabut pagi.
Suhu udara makin mendekati titik beku, sekitar 4° C. Rumput-rumput sabana yang semalam meliuk buas kini tertunduk layu, dilapisi embun es yang tipis.
Jarak pandang dari area tenda hanya berkisar 100 meter. Hamparan sabana selebihnya tertelan oleh dinding putih yang bisu dan dingin.
Meski suasana terasa sedikit janggal—terlalu sunyi untuk sebuah pagi—rombongan itu tampak tak peduli. Teror semalam seolah menguap bersama terbitnya terang.
Di sudut tenda beralaskan matras tipis, Adrian dan Pigi menunaikan salat subuh dengan khusyuk. Sementara yang lain sibuk menyalakan kompor portable, menjerang air untuk menyeduh kopi, teh, dan memasak sosis serta mi instan demi melawan dingin.
“Gila, semalem hawanya—Brrrr!” keluh Beni sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya di atas uap air rebusan.
“Iya nih. Terus ada yang lebih gila lagi,” sahut Indra dengan nada misterius, semua mata pun menyimak.
“Kemarin malem, ada yang teriak kenceng. Suaranya melengking ... persis kayak cewek,” sindirnya sambil terkekeh, yang langsung dibalas lemparan bungkus kopi kosong oleh Santoso.
Mereka tertawa, menggunakan humor sebagai tameng untuk menutupi sisa-sisa ketakutan tadi malam. Lalu di tengah obrolan ringan itu, Putra tiba-tiba bangkit berdiri dengan wajah yang jauh lebih cerah.
“Eh, gue mau ke semak-semak bentar yakk. Udah di pucuk nih. Mumpung udah terang,” pamitnya.
“Eh, berak yang jauh lu!” sahut Julita cepat.
“Iya, atau kita timpukin rame-rame lu,” tambah Beni sambil menunjuk-nunjuk Putra.
“Iya, iya ...” jawab Putra pasrah.
Berbekal sebotol air dan tisu basah, laki-laki gendut itu berjalan agak tergesa ke arah batas sabana. Setibanya di balik semak tinggi yang dirasa aman, ia akhirnya menuntaskan hajat yang sedari malam menyiksa perut buncitnya.
Ada desahan lega yang panjang saat sisa-sisa “ayam bakar dan kopi” dari reruntuhan candi itu keluar dari tubuhnya. Ia mengusap perutnya sambil tersenyum puas, mengira bahwa kutukan pencernaannya telah berakhir pagi itu.
Namun, Vamana tak pernah melepaskan mangsanya semudah itu. Di balik kotoran yang hanya ditutup beberapa lembar tisu basah, angin gunung berembus pelan, membawa serta kabut tipis yang seolah ingin menutup lembut jejak itu.