VAMANA

Hazsef
Chapter #9

Tersesat

[10:35 WIB] Jalur Vegetasi Hutan

Langkah Adrian tiba-tiba membeku. Di depannya, Indra—yang mengambil alih posisi terdepan dan terus berjalan membelah kabut—ikut berhenti. Pemuda angkuh itu menoleh ke belakang, menyadari tak ada suara langkah kaki yang mengikutinya.

​“Dri, ngapain berhenti?” seru Indra jengkel dari jarak sepuluh meter. Suaranya terdengar teredam, ditelan oleh rapatnya batang-batang pohon raksasa berlumut tebal di sekeliling mereka.

​Adrian tak menjawab. Tengkuknya meremang hebat. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya. Tangan Adrian gemetar saat ia merogoh saku celana kargo, menarik keluar sebuah kompas analog yang selalu ia andalkan dalam setiap pendakian.

​Matanya membelalak. Di balik kaca kompas itu, jarum merah yang seharusnya menunjuk mantap ke arah utara, justru berputar liar tak tentu arah, seolah seluruh tempat ini adalah medan magnet.

​Napas Adrian memburu. Ia buru-buru memasukkan kompas itu dan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel cerdasnya. Namun saat dicek, ternyata mati total.

​“Bentar ... perasaan di kereta kemarin udah gue full charge, tapi kok—” gumam Adrian panik. Ia segera melepas tas carrier-nya, membongkar bagian atas, dan menarik sebuah power bank berkapasitas besar. Ia menekan tombol indikator daya.

​Tidak ada satu pun lampu LED yang menyala. Benda itu mati, seolah seluruh energi di dalamnya telah disedot habis ke udara.

​Melihat Adrian yang pucat pasi mengutak-atik barang bawaannya, teman-temannya yang lain mulai mendekat dengan raut wajah bingung. Pigi adalah yang pertama menyadari kepanikan sang leader.

​“Ada apa, Dri?” tanya Pigi cemas, suaranya bergetar melihat raut wajah Adrian.

​Adrian mendongak, menatap kedelapan temannya satu per satu. “HP kalian ... masih nyala?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.

Lihat selengkapnya