VAMANA

Hazsef
Chapter #63

Wasiat

Setelah semua drama yang telah terjadi, Adrian—yang hatinya terasa hampa—akhirnya memberanikan diri untuk membaca surat peninggalan terakhir dari Indra dan Rozi.

Ia perlahan membuka sampul tali merah di surat itu, lalu mulai membaca surat pertama yang berada di tumpukan paling atas.

Surat ini kami buat untuk mereka yang berhasil menemukan jasad kami. Karena kami tahu, kalau kami ... takkan mampu bertahan hingga akhir.

Ada banyak hal yang ingin kami katakan, ada banyak cerita yang ingin kami bagikan, namun sayangnya ... waktu tidak berpihak pada kami.

Sebenarnya, ada banyak cara untuk kami bisa kembali. Ada banyak kesempatan agar kami bisa selamat. Akan tetapi ... kami sudah sepakat.

Kami sudah memutuskan, kalau kami akan tinggal. Jadi, kalau memang semuanya harus berakhir, maka biarlah ini berakhir. Namun, perlu kami luruskan:

Kami tidak mati bunuh diri. Kami tidak mati karena menyerah. Kami mati ... setelah berjuang sampai akhir.

Ada janji yang harus kami jaga, sekaligus ... tanggung jawab. Ketahuilah, kalau tersesat itu tidak enak. Sombong juga tidak bermanfaat.

Maka dari itu, jadikanlah kisah kami sebagai pelajaran. Jadikan pengorbanan kami sebagai simbol untuk pantang menyerah dalam situasi apa pun.

Karena bahkan di tempat yang tergelap, masih ada cahaya yang bersinar terang. Dan itu ... layak untuk diperjuangkan.

Usai membaca surat itu, hati Adrian terasa teriris. Ia tak menyangka, seberapa besar hati kedua sahabatnya, sekaligus seberapa berat perjuangan mereka hingga mampu menulis surat seindah dan sepilu itu.

Tanpa sadar, kertas di tangannya mengerut. Air matanya mengalir deras, hingga menetes dan membasahi surat yang digenggamnya erat, seolah itu adalah hal paling berharga di dunia.

Tak lama, cengkeraman kertas di tangannya bergeser. Tangisnya pun seketika berhenti. Ia baru ingat, kalau ada 2 surat yang diberikan Pak Dadang untuknya.

Tanpa menunggu lama, Adrian pun menggeser surat pertama ke posisi bawah, lalu mulai membaca isi surat kedua.

Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kutulis. Namun bajingan di sebelahku mengambil semua kalimat keren itu untuk dirinya sendiri.

Karena itulah, surat ini kutujukan bukan untuk siapa pun, melainkan kepada Adrian, sahabatku. Seorang pemimpin, cahaya, sekaligus harapan kami.

Dri, mungkin ... lu bakal nangisin kepergian kami. Mungkin ... lu bakal nyalahin diri sendiri, karena gak mampu nepatin janji.

Tapi, lu harus tahu, Dri. Gua sama Rozi, gak pernah sekalipun nyesel temenan sama lu. Kami tahu, seberapa besar pengorbanan lu demi mulangin kami semua.

Gua yakin, yang lain juga pasti mikir kayak gitu. Jadi, biar kami ingetin lagi, Dri: Berhenti nyalahin diri sendiri, karena semua ini ... bukan salah lu. Tapi emang udah waktunya kita hidup berseberangan.

Pesen dari gua, Dri: Jangan lupain kami. Dan juga ... jangan lupa senyum. Karena muke lu jelek kalo lagi mewek.

Kami pamit duluan, Dri. Salam ke bokap sama emak kami yakk.

Adrian sempat tersenyum tipis usai membaca surat kedua itu, sebelum tangisnya kembali pecah.

Lihat selengkapnya