[15:15 WIB] Kedalaman Hutan Lumut
Waktu terasa berjalan abnormal. Langit di balik kanopi raksasa itu tak lagi sekadar mendung, melainkan mulai memudar menjadi abu-abu gelap. Suasana siang telah sepenuhnya ditelan oleh bayang-bayang senja yang datang terlalu cepat.
Napas terengah-engah dan rintihan kelelahan mendominasi suara rombongan itu. Kaki mereka gemetar setelah dipaksa berjalan memutar tanpa henti selama lebih dari empat jam di medan yang basah dan licin.
Adrian yang berjalan di belakang Indra memperingatkan. “Ndra, hati-hati! Jalannya licin.”
Indra mendecak singkat, lalu tersenyum ringan. “Ah, santai! Track gini doang mah ... kecil,” ucapnya sambil menjentikkan kelingkingnya dari ibu jari.
Tak lama setelah itu, kaki Indra tersandung akar pohon. Ia sempat menjaga keseimbangan, sebelum kakinya tergelincir lumut licin dan jatuh di jalur turunan berbatu.
Brukk—Duakk!
Suara benturan itu menggema pendek di antara batang-batang pohon basah. Tubuh Indra baru berhenti saat menghantam dinding tebing. Dahinya membentur dinding, lalu tubuhnya terpelanting ke belakang.
Beruntung, tas carrier besarnya menjadi bantalan saat ia jatuh telentang di atas bebatuan, meski kepalanya tetap terguncang keras.
“Ndraa ...!” teriak Adrian.
Sontak teman-temannya panik. Tak ada satu pun yang sempat tertawa. Mereka tahu, cara Indra jatuh dan terkapar di penghujung jalur turunan bukanlah sesuatu yang sepele, namun bisa mengancam keselamatan.
Mereka lalu turun menghampiri Indra dengan hati-hati. Saat mereka datang, Indra tampak kesulitan bangkit. Darah segar mengalir di dahi dan rambut belakang pria itu.
“Ndra, lu nggak papa?” tanya Adrian.
“Nggak papa, aman,” jawabnya santai. “Cuman ... agak pusing aja.”
Adrian menghela napas pelan, lalu membersihkan darah di pelipis dan kepala belakang Indra dengan tisu, sebelum ia mengambil perban di tasnya.
[16:58 WIB] Kedalaman Hutan Lumut