VAMANA

Hazsef
Chapter #11

Perpindahan

[16:30 WIB] Kedalaman Hutan Lumut

Malam di Hutan Lumut jatuh lebih cepat dari yang seharusnya. Dengan lampu tenda yang mati, atau satu pun senter hingga ponsel yang menyala, sensasi terasingkan dan mencekam pun tak terelakkan.

Pada momen itu, Adrian segera menginstruksikan kelompoknya untuk mendirikan tenda di area tanah datar di antara celah akar raksasa. ​Setelah dua tenda berdiri, Julita dengan sigap mengeluarkan bahan-bahan logistik, sementara yang lain menyiapkan kompor dan alat makan.

Setelah menyalakan api untuk memanaskan air, Adrian dan Pigi melangkah ke dekat batang pohon besar yang relatif kering. Mereka menggelar matras untuk melaksanakan kewajiban jamak zuhur dan asar yang tertunda akibat berputar-putar seharian.

Namun, sadar betul bahwa sisa air minum di botol mereka, kini sama berharganya dengan darah dan nyawanya, keduanya lalu menempelkan telapak tangan ke permukaan tanah dan kulit pohon yang berdebu untuk melakukan tayamum.

​Namun kali ini, sebuah pemandangan langka terjadi. Tanpa banyak bicara, tujuh pendaki laki-laki lainnya ikut menepukkan tangan mereka ke tanah, bertayamum dalam diam, lantas ikut bersujud di atas matras tipis beralaskan tanah lembap.

Bahkan Indra dan Rozi tampak begitu khusyuk, seolah baru saja disadarkan betapa rapuhnya nyawa mereka di hadapan alam yang perkasa.


​[18:15 WIB] Area Tenda Darurat

Langit senja mulai gelap. Hutan Lumut kini benar-benar gulita, hanya nyala api biru dari kompor portable yang menerangi lingkungan sekitar. Adrian dan Pigi kembali bangkit. Indra dan Rozi dengan sigap mengekor di belakang mereka.

Putra rebahan santai di pintu tenda. Sementara Julita—yang sedang berhalangan—sibuk menata nesting dan menyeduh minuman hangat, ditemani Beni, Edo, dan Santoso yang tengah memotong sosis.

​“Kalian nggak ikut?” tanya Pigi pelan pada kelompok yang sedang memasak itu.

​“Iya, abis ini nyusul. Tanggung nih, airnya keburu mendidih,” kilah Beni sambil mengaduk panci. Edo dan Santoso hanya mengangguk setuju.

“Aku rehat bentar ... capek,” sahut Putra dari pintu tenda yang terbuka.

Pigi pun mengangguk singkat, lalu meninggalkan mereka dan pergi mengikuti langkah Adrian bersama Indra dan Rozi, untuk menunaikan kewajiban di matras yang masih digelar rapi di tempat mereka beribadah tadi.

​Ironisnya, rasa lelah dan kenyamanan semu di sekitar kompor yang hangat itu ... justru membuat mereka terlena. Seiring waktu berjalan, niat untuk menyusul itu ... menguap begitu saja, bahkan hingga waktu isya tiba.


​[19:30 WIB] Area Tenda Darurat

Lihat selengkapnya