[00:11] Pelataran Candi Vamana
Kesadaran kesembilan pendaki muda itu perlahan merangkak naik dari dasar jurang kegelapan. Sensasi mual dan pusing akibat putaran dimensi masih mengaduk-aduk isi perut mereka.
Di tengah pandangan yang masih buram dan telinga yang berdenging, lamat-lamat terdengar sebuah percakapan asing. Suara itu terasa menggema, berat, namun mengalun dalam bahasa yang sangat kuno.
“Nuwun sewu, Kanjeng Putri.”
(“Permisi, Tuan Putri.”)
Terdengar suara seorang pria yang berat dan penuh hormat.
“Danar,” suara lembut seorang wanita membalas santai, namun sarat akan otoritas absolut.
“Hamba maturaken warta.”
(“Hamba hendak menyampaikan berita.”)
“Hm. Ginema!”
(“Hm. Bicaralah!”)
Sang Putri mengangguk sambil berdehem pelan, lalu mempersilakan.
“Para pelanggar adat menika sampun kami kempalaken sedaya.”
(“Para pelanggar adat itu sudah kami kumpulkan semua.”)
“Sae.”
(“Bagus.”)
Dari balik kelopak mata yang setengah terbuka, Adrian bisa merasakan entitas yang dipanggil “Kanjeng Putri” itu sedang tersenyum tipis.
Hembusan angin malam yang sedingin es menyapu wajah mereka, memaksa kesadaran itu kembali seutuhnya. Satu per satu, kesembilan pendaki itu tersentak dan membuka mata lebar-lebar.
Kepanikan seketika meledak di dalam dada. Pemandangan sebelum mereka menutup mata sangatlah berbeda dengan apa yang kini terhampar di depan mereka.
Tidak ada atap tenda. Tidak ada pepohonan rimbun Hutan Lumut. Mereka tergeletak tak berdaya di atas susunan lantai batu andesit abu-abu gelap, dikelilingi arsitektur kuno yang menyerupai kompleks candi megah.
“Dri ... kita di mana, Dri?!”
Julita berbisik panik, tubuhnya gemetar hebat sambil mencengkeram lengan Adrian. Indra, Edo, dan yang lainnya bangkit dengan gerakan kacau. Napas mereka memburu, menyapu sekeliling yang dipenuhi barisan prajurit berwajah pucat.
Mendengar pergerakan gelisah dari arah pelataran, sosok pria bernama Danar—abdi kerajaan yang memegang busur panah—kembali menunduk hormat ke arah panggung singgasana.
“Nuwun sewu, Kanjeng Putri.”