VAMANA

Hazsef
Chapter #13

Ujian

​[03:15] Pelataran Candi Vamana

Di tengah kebingungan dan keputusasaan yang mencekam, tatapan tajam Sang Putri perlahan mereda. Wanita anggun penguasa Vamana itu menoleh sedikit ke sisi kirinya, lalu memanggil salah satu dayang yang bersimpuh di dekat singgasana.

​“Nampan,” titahnya singkat.

​Tak lama kemudian, dayang itu bangkit dan berjalan mundur ke dalam kegelapan pendopo, lalu kembali sembari membawa sebuah nampan emas.

Tiap sisi nampan itu dibingkai oleh ukiran ornamen tanaman rambat khas Jawa yang sangat detail dan memukau. Di atasnya, terhampar sehelai kain beludru merah menyala yang dilipat rapi, memanjang mengikuti bentuk persegi panjang nampan tersebut.

​Dayang itu menghadap di sisi kanan Sang Putri, berlutut sopan dengan kedua tangan mengangkat nampan emas beralaskan beludru merah itu tinggi-tinggi.

​Sang Putri tak merespons sang dayang. Ia justru mengangkat tangan kanannya ke udara. Jemarinya yang lentik dan dihiasi cincin emas itu perlahan terbuka.

​Seketika, permata hijau kecil yang tersemat di ujung ketujuh tusuk konde berbentuk bulu merak di kepalanya memancarkan pendar. Cahayanya tidak menyilaukan, namun cukup terang untuk terlihat menyala bagai sekumpulan kunang-kunang gaib di tengah temaram pelataran candi.

​Dengan gerakan yang sangat elegan, Sang Putri menutup jemarinya berurutan—dari kelingking merambat hingga ke telunjuknya—hingga tampak seperti menggenggam udara kosong.

​Tepat pada detik genggaman itu tertutup sempurna, tujuh tusuk konde yang berpendar di kepalanya meredup, lalu hancur dan lenyap bagaikan abu kertas yang tertiup angin malam.

​Tangan kanannya yang mengepal lantas bergerak mulus melayang ke atas nampan emas sang dayang. Ketika genggaman itu kembali terbuka, keajaiban yang tak masuk akal terjadi di depan mata kesembilan pendaki tersebut.

Ketujuh tusuk konde bulu merak itu tiba-tiba bermanifestasi dan jatuh berurutan dari kanan ke kiri, mengikuti pergerakan tangan Sang Putri, memantulkan pendar hijau di atas alas beludru merah.

​Pemandangan itu bagaikan sebuah pertunjukan sulap kecil yang teramat memukau, namun sekaligus menegaskan dominasi magis di tengah situasi yang mengancam nyawa.

​Setelah pusaka-pusaka itu berjajar rapi, Sang Putri kembali menatap ke depan dan bertitah.

“Terna.”

(“Antar ke sana.”)

​Dayang pembawa nampan itu menunduk hormat.

“Nggih, Kanjeng Putri.”

(“Baik, Tuan Putri.”)

Lihat selengkapnya