VAMANA

Hazsef
Chapter #14

Alam Liar

​[06:30] Jalur Hutan Lumut — Hari Pertama

Langit Vamana tak pernah benar-benar terang. Meski perkiraan waktu sudah menunjukkan pagi hari, kanopi Hutan Lumut yang sangat rapat membuat suasana tetap redup bagai senja yang muram.

​Kesembilan pendaki muda itu berjalan gontai menyeret kaki mereka yang mulai kebas. Sejak diusir keluar dari pelataran Candi Vamana beberapa jam lalu, mereka hanya berjalan mengikuti insting, tanpa kompas, tanpa peta, dan—yang paling parah—tanpa perbekalan.

Segala peralatan, mulai dari tenda, sleeping bag, hingga logistik makanan dan air, tertinggal di alam nyata sebelum mereka diculik oleh kabut malam tadi.

​Menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, di tengah situasi mencekam itu, mereka belum sepenuhnya menyerah. Insting bertahan hidup manusia masih menyala.

Mereka tetap berjalan, bukan karena yakin … melainkan karena tidak punya pilihan lain. Semua akan ditempuh demi bisa keluar dari hutan itu dan pulang dengan selamat. Maka, satu prioritas pun dibuat: menemukan sumber air.


[09:15] Aliran Sungai — Hari Pertama

Setelah berjalan menembus semak basah selama lebih dari dua jam, telinga mereka akhirnya menangkap suara gemericik. Langkah yang tadinya gontai mendadak bersemangat.

Setelah menyibak pepohonan paku raksasa, mereka menemukan sebuah aliran sungai kecil berbatu yang airnya sangat jernih.

​Kesembilan pendaki muda itu pun langsung bergegas ke tepian, menangkupkan tangan, melepas dahaga, sekaligus membasuh wajah mereka yang kuyu. Air pegunungan yang sedingin es itu seolah mengembalikan separuh nyawa mereka.

​Keberuntungan mereka tak berhenti di situ. Di sekitar bantaran sungai, berjejer rumpun pohon pisang liar. Sebagian besar buahnya memang masih hijau keras, namun ada beberapa yang sudah menguning.

​Adrian segera menginstruksikan teman-temannya untuk memetik buah tersebut. “Ambil dua atau tiga sisir aja per orang. Cari satu yang udah matang, satu setengah matang, dan satu lagi yang masih keras.”

​Semua orang pun mengangguk paham. Masing-masing mulai memetik hingga tiga sisir; satu sisir yang sudah matang untuk dimakan hari ini dan besok, sementara dua lainnya yang masih hijau sebagai perbekalan.

​Namun, rasa lapar yang menghantui membuat Putra berpikir lain. Pemuda tambun itu justru mengumpulkan sampai enam sisir pisang.

​“Anj***! Gile lu, Ndut! Gimana lu mau bawa segitu banyak? Tas aja kita nggak punya,” tegur Santoso sambil menggeleng tak percaya melihat tumpukan pisang di dekat kaki Putra.

​“Aman,” balas Putra sambil menaikkan dagu dengan raut wajah bangga. Ia lalu melepas jaket tebalnya, membentangkannya di atas tanah, dan memasukkan empat sisir pisang ke bagian punggung jaket.

Ia lalu mengikat kedua lengan jaket itu kuat-kuat di lehernya, memanggulnya seperti ransel darurat. Dua sisir sisanya ia tenteng di tangan kanan dan kiri.

​“Wah, anj*nk ... kreatif bener lu! Kalo soal perut, lu emang juara dah,” sindir Santoso sambil menaikkan dua jempol, setengah mengejek setengah takjub.

​“Oh iya dong! Siapa dulu ...” balas Putra bangga sembari menepuk dadanya dua kali, dagunya dinaikkan sedikit.

Lihat selengkapnya