VAMANA

Hazsef
Chapter #15

Keajaiban Semu

[12:33] Jalur Hutan Lumut — Hari Kedua

Tak terasa, dua malam telah berlalu sejak mereka menerima tantangan Sang Putri. Di hari kedua, mereka terus menyusuri hutan tanpa perbekalan sama sekali dan istirahat yang cukup.

Demi memperpanjang kelangsungan hidup, Adrian terus berusaha memutar otak. Ia menggunakan setiap jengkal ilmu survival dan pengalaman yang ia punya, lalu mencontohkannya pada anggota kelompoknya.

Untuk mengganjal perut, mereka makan daun pohpohan, semanggi, jamur, dan lumut hati. Sedangkan untuk minum, mereka memeras lumut yang tebal di pepohonan dengan sapu tangan yang disimpan di saku dan memotek akar gantung.

Tentu, teman-teman Adrian awalnya tampak enggan melakukannya. Namun, tak ada pilihan lain. Mau tidak mau mereka harus berkompromi dengan menu santapan konvensional, atau mereka bisa mati karena kelaparan dan dehidrasi.


[5:10] Jalur Hutan Lumut — Hari Ketiga

Langit yang kelabu mulai terang, namun para pendaki muda itu masih meringkuk di sela-sela akar pohon besar. Dinginnya angin gunung ditambah tarian kabut pagi, menahan raga mereka lebih lama untuk mengatur suhu tubuh.

Ketika hawa mulai bersahabat, barulah mereka kembali bangkit. Seperti biasa, Adrian, Pigi, diikuti Indra dan Rozi, menempatkan diri menunaikan kewajiban subuh, sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.


[10:25] Jalur Hutan Lumut — Hari Ketiga

Berjam-jam telah berlalu. Wajah-wajah mereka tampak letih. Bibir mereka kering dan pecah-pecah. Cara jalan mereka sudah sempoyongan. Selain itu, perut yang kosong mulai mengikis kewarasan mereka.

​“Anj*nk! Perut gua ...” keluh Santoso sambil memegangi perutnya. Langkahnya terhuyung, bersandar pada sebatang pohon berlumut. “Haus, laper, dingin. Kalo gini caranya, nggak nyampe tujuh hari juga kita bakalan koid.”

​Adrian yang berada di posisi paling depan hanya bisa menghela napas panjang. “Sabar, San. Kita cari sumber air. Jangan ada yang minum air dari lumut atau genangan, takutnya ntar beracun.”

​Santoso mendecak kesal, merosot duduk di atas akar pohon yang menonjol. “Ngomong doang mah gampang, Dri. Ini ... badan gua udah ... nggak kuat,” keluhnya dengan suara letih.

“Anj*nk lah! Andai aja barang-barang kita ada di sini ... seenggaknya bisa minum dikit kek, biarpun cuman seteguk,” Santoso berandai-andai dengan wajah memelas, lalu meraih oleh-oleh pemberian Sang Putri.

Lihat selengkapnya