[10:35] Jalur Hutan Lumut — Hari Ketiga
Keheningan yang mencekam menyelimuti formasi batu besar itu. Beberapa menit yang lalu, sembilan pendaki muda itu masih berada di titik nadir keputusasaan.
Kini, mereka duduk melingkari tumpukan tas logistik yang kembali secara ajaib, mengunyah roti sobek dan menenggak air mineral kemasan dengan rakus.
Namun, di tengah hiruk-pikuk kelaparan yang terbayar lunas itu, Adrian perlahan menurunkan botol airnya. Ia baru menghabiskan satu potong roti dan meminum beberapa teguk air. Pigi, Indra, dan Rozi yang menyadari gestur sang pemimpin, perlahan ikut menghentikan kunyahan mereka.
Sementara itu, Edo, Julita, Beni, Santoso, dan Putra masih makan dengan beringas, seolah ingin menebus siksaan fisik selama tiga hari terakhir dalam satu waktu.
“Udah, tahan,” tegur Adrian tiba-tiba, suaranya memecah suara kecapan mulut mereka. “Hemat perbekalan. Kita nggak tahu bakal muter-muter berapa hari lagi di sini.”
Edo yang baru mau merobek bungkus roti kedua, menghentikan tangannya di udara. Beni dan Santoso saling melirik dengan dahi berkerut.
Meski wajah mereka memancarkan ketidakpuasan yang sangat kentara, saran Adrian yang realistis membuat mereka—mau tak mau—meletakkan kembali makanan itu ke dalam tas.
“Dri, kalau jimat ini emang bisa ngabulin apa aja ...” Beni membuka suara, menatap lekat tusuk konde di tangannya. “Kenapa nggak kita pake aja buat langsung pulang?”
Semua mata langsung berbinar penuh harap. Edo dan Julita mengangguk antusias.
“Coba aja,” jawab Adrian singkat, meski sorot matanya menyimpan harapan, sekaligus keraguan.
Beni menarik napas panjang, menggenggam pusaka itu erat-erat. “Gue minta ... bawa kita semua pulang ke rumah ... sekarang!”
Permintaan itu terucap, namun hanya disambut keheningan. Angin hutan berembus pelan. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada kabut yang menelan pandangan. Mereka masih duduk di atas tanah berlumut yang dingin.
“Kok nggak bisa?” gumam Beni kecewa. Ia mencoba lagi. “Kalau gitu, kasih kami petunjuk jalan keluar dari hutan ini!”
Lagi-lagi, tidak ada yang terjadi. Benda di tangan Beni tetap berwujud tusuk konde emas yang diam membisu. Keheningan canggung dan hawa dingin kembali merayap, meremukkan harapan instan yang sempat melambung tinggi.
“Hmm ... kayaknya emang bener,” gumam Adrian sambil mengusap dagu. “Persis seperti kata Tuan Putri,” imbuhnya.
“Hah? Maksud lu, Dri?” tanya Julita dengan alis mengerut.
“Jimat itu cuma alat bantu permainan, semacam token keringanan. Kita bisa tuker jadi suplai atau senjata, tapi kita nggak bisa minta langsung skip ke garis finish. Itu aturan mainnya,” jelas Adrian rasional, selagi tangannya merapikan tas carrier-nya.
“Kita musti nemuin jalannya sendiri dalam tujuh hari, atau ...” kalimat itu tertahan sejenak. Adrian menghela napas panjang, sebelum melanjutkan dengan nada tegas. “Anggep aja ... kita udah tamat.”