VAMANA

Hazsef
Chapter #17

Santapan Malam

[11:05] Jalur Hutan Lumut — Hari Ketiga

Setelah meraup suapan terakhir dengan rakus, Julita yang tampak sangat puas menyodorkan piring tanah liat berisi sisa ayam bakar ke arah Adrian dan tiga temannya.

​“Beneran nggak mau nyicip, Dri?” tawar Julita berbasa-basi. “Mumpung masih anget, lho!”

​Adrian menolak halus dengan senyum santai. “Nggak deh, kalian makan aja. Bekalku masih banyak kok!”

​Mendengar itu, Julita hanya menaikkan bahu, lalu kembali berbalik dan melanjutkan makannya bersama yang lain. Setelah pesta pora itu usai, sisa-sisa alat makan mereka biarkan tertinggal.

Piring-piring tanah liat itu mereka tata rapi di atas batu besar, sementara sisa makanan yang tak habis mereka bungkus rapi dengan daun pisang yang masih tampak bersih dan segar.

​Tujuh kendi air tak luput dari jarahan. Kendi-kendi itu mereka bawa—tiga di antaranya sudah kosong, sementara empat lainnya masih tersisa setengah—sebagai bekal minum.

Bagi kelima orang yang perbekalannya sudah menipis sejak insiden babi hutan itu, sisa prasmanan ajaib ini sudah seperti harta karun dan bantuan besar.

​Di saat yang lain sibuk memilah makanan, Adrian, Pigi, Indra, dan Rozi menepi untuk menunaikan salat zuhur. Baru setelah urusan logistik dan ibadah selesai, kesembilan pendaki itu kembali melanjutkan perjalanan menembus Hutan Lumut.


[15:15] Kedalaman Hutan Lumut — Hari Ketiga

Mereka telah berjalan selama kurang lebih tiga jam dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sekitar 15 menit kemudian, saat napas kembali teratur dan tenaga mulai pulih, Adrian bangkit, lalu mengajak teman-temannya untuk menunaikan kewajiban ashar.

​Namun, respons yang didapatnya jauh dari kata antusias. Selain Pigi, Indra, dan Rozi yang langsung berdiri, lima orang lainnya hanya membalas dengan anggukan malas.

​“Iya, kalian duluan,” sahut Edo sambil bersandar lemas di batang pohon besar.

​Kelima orang yang kekenyangan itu hanya duduk santai menonton Adrian dan ketiga temannya beribadah. Hati mereka mulai kebas. Tak sedikit pun terbesit niat untuk mengikuti gerakan suci di atas sajadah matras, seolah kewajiban mereka telah diwakilkan oleh sang pemimpin.

Setelah ritual ibadah itu usai, barulah mereka kembali menyeret langkah mereka, melewati jalur hutan lumut yang licin, tidak rata dan penuh akar, hingga senja menjemput.


[17:45] Kedalaman Hutan Lumut — Hari Ketiga

Menjelang magrib, rombongan itu menemukan sepetak tanah datar di dekat sebuah pohon beringin raksasa. Akar-akarnya yang mencuat tinggi seolah membentuk sekat alami yang cukup luas untuk menampung mereka bersembilan. Mereka pun membongkar tas dan menggelar matras di sana.

Lihat selengkapnya