[04:55] Kedalaman Hutan Lumut — Hari Keempat
Pagi di Vamana selalu datang tanpa sapaan matahari. Kabut tebal masih menggantung rendah di sela-sela akar pohon raksasa saat kesembilan pendaki itu mulai terbangun dengan tulang bersendi kaku.
Adrian, Pigi, Indra dan Rozi langsung bertayamum dan menggelar matras untuk menunaikan kewajiban subuh, sementara yang lain kembali memejamkan mata untuk mengatur suhu tubuh sejenak.
Setelah ibadah fajar itu telah dituntaskan, Adrian pun melipat matras dan lanjut membangunkan mereka yang masih terpejam, untuk bersiap memulai perjalanan.
Mau tidak mau, mereka pun terbangun. Satu per satu mulai bangkit dan melipat sleeping bag masing-masing, sembari menahan angin pagi Vamana yang seakan menusuk tulang.
Namun, sisa-sisa kantuk itu mendadak menguap saat suara panik Julita memecah keheningan. “Eh, bentar ... kok sisa bekal kita tinggal satu bungkus?”
Semua mata langsung tertuju pada tumpukan perbekalan daun pisang di tengah-tengah mereka. Dua bungkus yang semalam sengaja disisakan, kini hanya tinggal satu.
“Hah? Masa?” sahut Edo sambil mengucek mata.
“Iya! Padahal jelas-jelas semalem masih ada dua,” bantah Julita.
Santoso yang baru saja merenggangkan otot lehernya langsung mematung. “Anj*nk, ada yang maling rupanya,” gumamnya santai, namun wajahnya menegang. Matanya yang memerah karena kurang tidur langsung mengunci fokus ke satu orang.
Putra yang duduk tak jauh dari Santoso langsung menelan ludah. Keringat dingin seketika merembes di pori-pori pelipisnya. Ia menunduk dalam, pura-pura sibuk merapikan tali sepatunya agar tak ada yang melihat bibirnya yang gemetar.
“Ndut! Lu semalem makan lagi?” tuduh Santoso tanpa basa-basi.
“Hah? E-enggak!” bantahnya cepat. “Abis makan ... kan gua kemarin langsung tidur. Kalo tadi lu gak bangunin juga gua masih molor,” dalihnya meyakinkan.
“Iya juga ya ...” Santoso mengangguk pelan, sebelum matanya menyapu tajam ke seluruh anggota kelompok yang lain.
Di tengah ketegangan itu, mata Santoso menyipit, seolah pupilnya telah menangkap sesuatu. Ia melihat bekas bumbu rempah ayam bakar yang menempel di tas carrier Pigi.
Santoso pun melangkah mendekat. Langkahnya terhenti tepat di hadapan Pigi yang berdiri menyamping. Ia mengamati tas carrier Pigi—yang belum ia panggul, masih tergeletak di tanah—sekali lagi, memastikan bahwa matanya tidak menipu.
Tak lama, Santoso mendengus pelan. “Gi, mending lu ngaku deh ...” ucapnya dengan nada tenang, namun sorot matanya tajam. “Semalem ... lu makan bekal kita kan?” tuduhnya.
Pigi yang sedang melipat sleeping bag refleks mendongak bingung. “Hah? Makan apaan?”
“Udah lah ... nggak usah sok polos gitu,” ucap Santoso masih tampak tenang.
“Hah? Sok polos gimana? Gua nggak ngerti apa-apa!” Pigi membela diri dengan wajah bingung.
“Gini ya ... gua ini nggak masalah kalo lu pada laper terus makan itu,” Santoso pun tersenyum tipis. “Yang gua mau nih sekarang ... lu tuh ngaku, kalo lu tuh makan. Udah, itu aja,” tegasnya santai.
“San ... Gua, Adrian, Indra, sama Rozi, tidur semaleman. Lu bisa tanya sama mereka kalo nggak percaya,” jelas Pigi sambil menunjuk ke arah samping kanannya.
Namun, Santoso langsung menaikkan dagu. “Heh! Kalo mau bohong itu yang pinter dikit,” bantahnya cepat. “Di tas lu noh ... masih ada bekas bumbu ayam bakar.”