Setelah dorongan Santoso yang terasa dingin dan memilukan itu ... tubuh Pigi menembus kabut, terhempas keras ke akar pohon raksasa di dataran yang curam, sebelum akhirnya berguling dan jatuh telentang di dasar jurang.
Rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur punggungnya. Bagi Pigi, benturan itu terasa seperti jatuh dari ketinggian tiga meter. Beruntung, tas carrier tebal di punggungnya bertindak sebagai peredam benturan sekaligus bantalan alami yang menyelamatkan tulang belakangnya dari cedera fatal.
Pigi terbatuk keras, memuntahkan sedikit air liur. Tubuhnya serasa remuk redam. Dengan napas tersengal dan pandangan berkunang-kunang, ia memaksa dirinya merangkak naik, mencengkeram akar dan lumut basah, berusaha kembali ke atas punggungan tebing untuk menemui Adrian, Indra, dan Rozi.
“Adrian ... Indra ... Rozi ...!”
Pigi merintih lirih saat kepalanya akhirnya menyembul melewati batas semak-semak. Namun, sesampainya di atas, lidahnya kelu. Matanya melebar. Tempat ia berdiri beberapa menit yang lalu ... kini sepi.
Tak ada tumpukan tas, tak ada matras, tak ada Santoso yang mengamuk, dan tak ada Adrian yang membelanya. Tempat itu benar-benar kosong, hanya menyisakan hamparan daun kering dan akar beringin.
“Adrian ... Indra ... Rozi ... kalian pada ke mana?!” Pigi berteriak panik, memutar tubuhnya ke segala arah.
Namun, tak ada sahutan. Kesunyian itu mencekik lehernya. Pigi berlari kecil ke arah batu besar tempat mereka menaruh makanan tadi, tapi batu itu bersih. Seolah ia baru saja diisolasi ke dalam dunianya sendiri.
Tanpa sadar, lututnya lemas. Tubuhnya merosot jatuh ke tanah. Suaranya mulai bergetar hebat, matanya memanas dan air matanya tumpah menderas.
Pigi menangis dalam diam, duduk meringkuk sambil memeluk lututnya dalam rasa takut yang luar biasa di tengah hutan yang asing itu. Namun, di tengah isak tangisnya, inderanya mulai menangkap kejanggalan demi kejanggalan.
Fase kebingungan realitas itu datang menyergap. Kabut tebal yang biasanya membuat jarak pandang hanya beberapa meter, kini tampak mulai menipis dan memudar.
Cahaya di sekitar memang masih redup karena terhalang kanopi raksasa, namun entah mengapa, sinar itu terasa hangat menyentuh kulit pipinya yang basah. Tidak ada lagi hawa dingin Vamana yang menusuk tulang.