VAMANA

Hazsef
Chapter #21

Perpecahan

[06:30] Kedalaman Hutan Lumut — Hari Keempat

Semak belukar di bibir jurang itu masih bergoyang pelan, menyisakan jejak ke mana tubuh ringkih Pigi terlempar, sebelum lenyap ditelan kabut tebal tepi jurang.

Di tepiannya, Adrian duduk menekuk lutut. Wajahnya menunduk dalam, disembunyikan di antara kedua lengannya yang menumpu lutut. Bahu tegap sang pemimpin kelompok itu bergetar naik-turun, diiringi suara isakan pelan yang menyayat hati.

​Beberapa meter di belakangnya, Santoso masih berdiri mematung dengan napas memburu liar. Dadanya naik-turun dengan cepat. Rahangnya masih mengeras, menatap tajam ke arah kabut tebal yang baru saja menelan tubuh temannya.

Namun, seiring dengan kesunyian hutan yang kembali mencekik, tatapan Santoso perlahan melunak. Napasnya yang memburu karena amarah kini berubah menjadi tarikan napas pendek yang panik.

“Hmm? Ini ... di mana?”

Santoso berkedip cepat. Ia perlahan menunduk, menatap kedua telapak tangan terbuka yang baru saja mendorong dada Pigi dengan kekuatan penuh.

Seketika, rada ngeri menyergap. Kakinya mendadak lemas. Santoso terhuyung mundur, tersandung akar pohon di belakangnya, lalu jatuh terduduk di atas tanah berlumut.

“Barusan ... gua ngapain?”

Tubuh besarnya mulai gemetar hebat. Ia menatap ke arah jurang yang kosong, lalu menatap teman-temannya yang kini memandangnya dengan raut wajah ngeri dan jijik.

Ingatan saat ia membanting Adrian, serta menghempaskan Indra dan Rozi ... langsung berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Sementara Edo, Beni, dan Julita mematung dengan wajah pucat pasi. Kini mereka memandangi Santoso seperti melihat orang asing.

“Pigi ...” gumam Santoso lirih, suaranya pecah dan bergetar parah. Matanya memerah, menahan tumpukan air mata penyesalan yang membakar pelupuknya. Ia merangkak maju ke arah Adrian yang mulai berdiri dari duduk meringkuk.

“Dri ... maaf. Gua nggak—”

Lihat selengkapnya