[10:15 WIB] Jalur Hutan Lumut — Alam Nyata
Napas Pigi memburu hebat, memecah keheningan hutan pinus yang basah oleh embun pagi menjelang siang. Kakinya yang gemetar terus dipaksa melangkah setengah berlari melewati semak belumkar dan kontur tanah yang tidak rata.
Sesekali ia terpeleset akar pohon, namun tekadnya untuk mencari bala bantuan mencegahnya untuk tumbang. Wajah ramah Adrian, Indra dan Rozi masih melekat begitu erat, seolah mereka masih ada di belakangnya.
Setelah hampir setengah jam menyusuri jalur yang ditumbuhi semak belukar setinggi dada, telinga Pigi menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang: suara manusia.
Sayup-sayup terdengar obrolan dan tawa renyah dari arah bawah. Pigi segera mempercepat langkahnya, menyibak semak-semak lebat hingga akhirnya ia menembus keluar ke sebuah jalur pendakian yang agak landai dan terbuka.
Tepat sekitar sepuluh meter di depannya, lima orang pendaki berpakaian kasual dengan tas carrier berukuran sedang, tengah duduk beristirahat di atas batang pohon tumbang.
Mendengar suara gemerisik kasar dari arah semak-semak, kelima orang itu refleks menoleh. Mereka terkejut melihat kemunculan Pigi yang tiba-tiba.
Penampilan Pigi sangat berantakan. Wajahnya tirus pucat, pipinya tergores ranting, jaketnya dipenuhi noda tanah, dan matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa.
“Lho, Mas? Nggak papa?” tanya salah satu dari mereka, seorang pria tegap berambut ikal yang tampaknya adalah ketua rombongan.
Ia segera berdiri dan mendekati Pigi sambil menyodorkan sebotol air mineral. Pigi menerimanya dengan tangan gemetar dan langsung meneguknya habis.
“N-nggak papa, Mas,” jawab Pigi dengan napas tersengal-sengal. Ia memegang lututnya, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. “Kalian ... rombongan yang mau naik?”
“Iya, Mas. Kami rombongan baru dari bawah,” jawab pria itu ramah. “Kenalin, saya Hadi. Ini teman-teman saya. Masnya dari mana?”
“Saya Pigi, Mas. Asal Jepara, tapi kuliah di Jakarta,” balas Pigi setelah napasnya sedikit teratur.
Mereka pun berbasa-basi singkat. Hadi bercerita bahwa rombongannya baru mulai mendaki via Desa Sarkara kemarin pagi. Pigi mengangguk-angguk, lalu langsung mengajukan pertanyaan krusial yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya.
“Oh iya, Mas Hadi,” panggilnya santai. “Kalau dari sini ke Basecamp Sarkara ... estimasinya berapa jam ya?”
Hadi tampak berpikir sejenak. “Dari base camp ke sini, kami butuh sekitar 9 sampai 10 jaman. Kalo turun santai sih, 5 atau 6 jam juga udah nyampek.”
Pigi mengangguk singkat. Waktu itu terasa cukup lama dan jauh, namun tidak mustahil. Entah bagaimana caranya, ia yakin bisa mencapai basecamp lebih cepat dari estimasi. “Mas Hadi, makasih banyak infonya. Saya duluan, ya. Saya dikejar waktu.”
Pigi tersenyum tipis dan hendak memutar tubuhnya untuk berlari turun. Namun, dengan gerakan refleks, Hadi langsung menahan pergelangan tangan Pigi. Genggamannya cukup kuat.
“Sebentar, Mas,” cegah Hadi, keningnya kini berkerut dalam. Ia menatap Pigi dari atas ke bawah.
“Mas Pigi turun sendirian? Rombongannya mana? Terus ... kok Mas tadi tembus dari semak-semak situ? Itu kan bukan jalur tracking, tapi arah jurang loh, Mas.”