[15:10 WIB] Base Camp Sarkara
Suasana Base Camp Sarkara sore itu terbilang cukup santai. Beberapa pendaki tampak duduk selonjoran di teras kayu sambil menikmati gorengan hangat, sementara alunan musik dari radio tua mengalun pelan menemani kabut tipis yang mulai turun menyelimuti pelataran parkir.
Di dalam pos jaga, Pak Dadang—seorang ranger senior berseragam lusuh—sedang asyik mengaduk kopi hitamnya. Kepulan asap tipis beraroma khas kopi robusta memenuhi ruangan kecil yang dinding papannya dipenuhi stiker komunitas pecinta alam.
Di salah satu sudut papan informasi, tertempel sebuah kliping koran usang—kertasnya sudah menguning—yang memuat cetakan foto sembilan pemuda-pemudi yang diambil dari Facebook, membeku dalam senyum bahagia sebelum tragedi misterius menelan mereka.
Ketenangan pos jaga itu mendadak pecah saat rombongan Hadi menerobos masuk dengan napas terengah-engah. Hadi dan Rizal memapah sosok Pigi yang penampilannya sangat berantakan; wajahnya tirus pucat, bajunya penuh noda tanah kering, dan tatapan matanya kosong.
Pak Dadang hanya melirik sekilas dari balik cangkir kopinya. Ia mengira Pigi hanyalah pendaki biasa yang terkena hipotermia ringan atau kelelahan di jalur.
“Eh, Mas Hadi. Baru juga naik tadi pagi, kok udah turun lagi?” sapa Pak Dadang santai sembari meletakkan kopinya.
“Ah, gini, Pak ...” jawab Hadi dengan napas memburu dan raut wajah tegang. “Kami balik lagi ke sini ... mau bikin laporan orang hilang.”
Mendengar kata “orang hilang”, tangan Pak Dadang yang memegang pulpen langsung terhenti. Matanya membulat menatap Hadi, lalu beralih meneliti sosok kurus berkacamata yang sedang duduk gemetar di kursi kayu.
“Orang hilang?” Pak Dadang mengerutkan kening, insting ranger-nya langsung menyala. “Atas nama siapa, Mas? Dari rombongan mana? Tanggal berapa naiknya?”
Pertanyaan itu bertubi-tubi, namun hanya disambut oleh keheningan sesaat, sebelum suara parau yang nyaris habis menyerobot dari belakang barisan.
“S-saya Pigi, Pak,” jawabnya sambil mengangkat tangan dan melangkah perlahan. “Saya naik dari Base Camp Rohan ... tanggal 17 Desember.”
“Hah?! Bentar ...” mata Pak Dadang langsung membulat, kepalanya agak tersentak. Ada satu kejanggalan yang seketika menggema di kepalanya.
Gimana caranya pendaki yang baru naik tanggal 17 dari Base Camp Rohan bisa nyampek ke Base Camp Sarkara dalam waktu kurang dari dua hari?
Pak Dadang menghela napas sejenak, lalu membuka buku catatan pendakian. “Mas Pigi yakin nggak salah jalur?” selidiknya, masih mencoba mencari logika yang masuk akal sambil mencari nama Pigi di daftar pengujung dengan ujung pulpen.
“Siapa tahu Mas-nya lagi—”