VAMANA

Hazsef
Chapter #23

Tekad

[07:15 WIB] Tebing Jurang Vamana — Hari Keempat

Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, Adrian melangkah menuruni bibir jurang yang tertutup kabut. Langkahnya panjang dan terburu-buru, didorong oleh sisa-sisa harapan yang menolak untuk mati.

Sementara di belakangnya, Indra dan Rozi mengikuti dengan waspada, disusul oleh Julita, Beni, dan Edo yang berjalan dalam keheningan yang canggung.

​Jalur turun itu bukanlah jalur pendakian, melainkan tebing terjal yang didominasi akar gantung, lumut licin, dan tanah gembur.

​Di tengah perjalanan, petaka nyaris menimpa Adrian saat sepatunya memijak sebuah gundukan. Tanah pasir kering di bawahnya mendadak longsor.

Sreeek!

Kaki Adrian sempat kehilangan pijakan untuk kedua kalinya, sebelum keseimbangannya goyah. Tubuhnya tergelincir deras ke arah bibir tebing vertikal yang menganga menuju dasar jurang.

​“Adri!!!” teriak Julita panik.

​Beruntung, Indra dan Rozi yang berada tepat di belakangnya bergerak secepat kilat. Mereka menerjang maju dan mencengkeram erat tali tas carrier Adrian dengan sekuat tenaga, menahan laju jatuh pemuda itu hingga urat di leher mereka menonjol.

Perlahan namun pasti, dengan napas tertahan, mereka menarik tubuh Adrian kembali naik ke pijakan yang aman. ​Suasana tegang itu kemudian menguap, digantikan oleh keheningan yang hanya diisi oleh suara napas Adrian yang tersengal-sengal.

Pemuda itu terduduk di atas tanah, menatap jurang di bawahnya dengan tatapan kosong, sebelum menundukkan kepala. Tak berselang lama, Adrian menghela napas panjang. Ia menoleh pelan ke arah teman-temannya di belakang.

​“Maaf ya. Gua ... kelepasan tadi,” ucapnya lirih. Suaranya terdengar sangat lelah, mencerminkan beban berat yang memeras batinnya sejak semalam.

​Indra dan Rozi saling bertatapan sejenak, lalu mengangguk pelan.

​“Dri, ini semua musibah. Jadi ...” ucap Rozi seraya menepuk bahu Adrian. “Gak ada yang perlu dimaafin.”

​“Bener, Dri. Kita juga ... minta maaf,” sahut Indra pelan, raut wajahnya menyiratkan penyesalan mendalam. “Kalo dari awal kita dengerin nasihat lu dan nahan ego, mungkin—”

​“Kita nggak bakal nyasar sejauh ini,” potong Julita dengan suara bergetar, menyelesaikan kalimat Indra.

​“Maaf, Dri. Kami cuman bisa diem waktu Pigi dituduh,” tambah Edo, menunduk tak berani menatap mata Adrian. “Kami ... syok.”

​“Iya, Dri. Maaf ya,” imbuh Beni mengusap tengkuknya dengan canggung.

​Adrian menatap wajah teman-temannya satu per satu. Sorot matanya yang tadi sedingin es kini perlahan menghangat. Dinding pembatas yang sempat terbangun akibat insiden Santoso perlahan runtuh.

Lihat selengkapnya