VAMANA

Hazsef
Chapter #24

Firasat

[10:30] Aliran Sungai Vamana — Hari Keempat

Perjalanan menyusuri sungai berbatu itu terasa sepuluh kali lipat lebih berat. Beban di punggung Adrian membuat napasnya terdengar putus-putus, namun pemuda itu menolak untuk menyerah. Di depannya, Indra dan Rozi fokus memapas ranting dan mencari pijakan batu yang aman.

​Namun di barisan belakang, ritme perjalanan mulai hancur. ​Langkah Julita semakin gontai. Rasa mulas yang awalnya hanya seperti kram biasa, kini berubah menjadi rasa sakit yang melilit hebat di bawah bagian perutnya.

Di tengah udara yang menggigit, keringat dingin justru membanjiri pelipis gadis itu. Sesuatu yang hangat dan basah mulai terasa merembes di balik celananya.

​“Dri ... bentar,” panggil Julita dengan suara bergetar. Ia melepaskan pegangannya dari lengan Edo. “Gue ... lagi kebelet nih.”

​Adrian menghentikan langkahnya, menoleh sekilas dari balik bahunya dengan napas tersengal. “Ya udah, Jul. Jangan jauh-jauh yakk.”

“Iya,” jawab Julita singkat, lalu setengah berlari menuju semak di balik batu besar yang tertutup rimbunnya pakis.

Begitu gadis itu menurunkan celananya, matanya membulat sempurna, napasnya tertahan sejenak. Darah menstruasi yang keluar—tidak sewajarnya—membuatnya keringat dingin. Pembalut dan celana dalamnya bahkan sudah tembus sepenuhnya.

​Dengan tangan gemetar, ia mengganti pakaian dalamnya dengan cadangan terakhir yang ia miliki, lalu kembali ke rombongan dengan wajah pucat pasi.

​Namun, siklus biologis itu tidak berhenti di sana. Belum genap setengah jam mereka lanjut berjalan, Julita kembali merasakan rembesan hangat itu menembus celana training-nya. Langkahnya pun terhenti, lalu meringis dalam diam.

​Melihat kondisi Julita yang semakin mengkhawatirkan, Edo langsung membongkar tasnya dan menyodorkan celana training cadangan miliknya.

“Jul, pake ini aja. Nggak papa double, penting aman.”

​Julita menerimanya dengan air mata berlinang, lalu kembali ke balik pohon untuk berganti. Namun, tubuhnya sendiri seakan sedang mempermainkan dirinya.

Tak butuh waktu lama hingga celana training milik Edo itu pun berakhir basah oleh darah haid Julita yang terus mengalir tanpa henti.

Lihat selengkapnya