[16:20] Hutan Lumut — Hari Keempat
Suhu udara perlahan turun. Langit Vamana mulai kehilangan cahayanya, digantikan oleh bayang-bayang pohon raksasa yang memanjang dan makin berbaur dengan kegelapan.
Setelah perjalanan berjam-jam tanpa henti, Adrian akhirnya mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada rombongan untuk berhenti di sebuah area datar yang cukup kering di dekat aliran sungai.
“Malam ini ... kita camp di sini,” putus Adrian dengan napas terengah-engah. Keringat membasahi pelipisnya meski udara sangat dingin. Punggungnya pasti menjerit kesakitan setelah berjam-jam menggendong beban mati.
Dengan sangat hati-hati, dibantu oleh Indra dan Rozi, Adrian menurunkan tubuh Pigi dan menyandarkannya pada sebuah batang pohon tumbang yang berlapis lumut tebal.
“Gi, lu istirahat sini ya. Gua sama anak-anak mau setup tenda,” ucap Adrian sambil menepuk pelan bahu temannya itu.
Sosok berkacamata itu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk lesu di atas dadanya. Adrian, Indra, dan Rozi kemudian berbalik membelakangi Pigi.
Ketiga pemuda itu mulai sibuk membongkar tas carrier mereka, mengeluarkan frame tenda, flysheet, dan memilah-milah perlengkapan yang tersisa. Perhatian mereka sepenuhnya teralih ke tanah di depan mereka.
Di sisi lain area camp, berjarak sekitar lima meter, Julita, Edo, dan Beni sedang duduk selonjoran melepas penat. Napas mereka masih memburu.
Namun saat mata ketiganya secara kebetulan menatap ke arah batang pohon tumbang itu ... napas mereka serempak tercekat.
Sosok Pigi yang tadinya tertunduk lemas, kini kepalanya terangkat tegak.Lehernya menoleh pelan, sebelum matanya yang terbuka lebar menatap lurus ke arah Julita, Edo, dan Beni.
Di wajahnya yang pucat itu, senyum kaku yang sama persis seperti siang tadi kembali terukir. Namun kali ini, senyum itu tertahan lebih lama. Tidak ada batuk, tidak ada erangan kesakitan. Hanya keheningan yang membekukan darah.