[06:15] Area Kamp Tepi Sungai — Hari Kelima
Pagi di Hutan Lumut Vamana tidak membawa kehangatan, melainkan hanya mengubah warna kegelapan menjadi kabut kelabu yang membekukan tulang.
Di area kamp, kontras antara dua kubu terlihat sangat nyata. Adrian, Indra, dan Rozi tampak sedikit lebih segar setelah berhasil tidur cukup lelap, meski tubuh mereka masih pegal linu.
Namun di sisi lain, wajah Julita, Edo, dan Beni terlihat sepucat mayat. Kantung mata mereka membekas, rahang mereka gemetar menahan dingin dan sisa teror semalam suntuk yang merampas kewarasan mereka.
[07:22] Jalur Persimpangan — Hari Kelima
Setelah melewati pagi dengan keheningan yang canggung, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam kemudian, usai menyusuri jalur dekat aliran sungai, sebuah persimpangan jalan terlihat di depan.
Jalur di sebelah kanan menanjak dan berbatu, sedangkan jalur di sisi kiri datar dan lembab. Tanahnya naik-turun, mengikuti aliran sungai yang berkelok seperti ular.
Adrian, yang membopong tubuh rapuh Pigi di punggungnya, menatap ke arah tebing bukit yang menjulang di sisi kanan. Kabut di sana tampak sedikit lebih tipis.
Pada momen itu, Pigi tiba-tiba menggerakkan tangannya yang tampak rapuh dan lunglai. “D-dri ...”
Adrian menoleh, lalu Pigi menunjuk ke jalur sebelah kanan. “S-sana ... aja ...”
Adrian terdiam sejenak. Ia menimbang dan memikirkan berbagai kemungkinan dari kedua jalur, sebelum ia memantapkan keputusannya dan berbalik menatap teman-temannya di belakang.
“Guys, kita sudahi susur sungai,” buka Adrian dengan suara tegas memecah keheningan. Ia menunjuk ke arah tebing bukit itu. “Kita ambil jalur kanan.”