VAMANA

Hazsef
Chapter #27

Ujian 7 Pagebluk

[16:45 WIB] Aula Desa Sarkara

Sudah hampir dua jam Pigi duduk di kursi plastik Aula Desa Sarkara dengan tubuh terbalut selimut tebal pemberian warga. Teh manisnya sudah lama tandas, menyisakan keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara HT Pak Dadang yang terus menyala di pos luar.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. ​Meski perutnya sudah terisi dan tubuhnya mulai hangat, tatapan Pigi masih kosong. Kepalanya terus memutar kengerian yang dialami teman-temannya di dalam hutan berkabut itu.

Ngeeeeng ... Ngeng!

​Suara bising belasan motor trail tiba-tiba memecah lamunannya, meraung memasuki pelataran balai desa. Pigi menoleh ke arah pintu.

Dari luar, Pak Wandra—Kepala Ranger Base Camp Rohan—melompat turun dari motornya dengan wajah garang, diikuti oleh sembilan ranger lainnya yang berseragam lengkap.

​Pak Wandra nyaris berlari menerobos pintu aula. Saat matanya menangkap sosok kurus berkacamata yang duduk di sudut ruangan, langkah pria tangguh itu terhenti mendadak. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya memburu.

Sebagai orang yang memimpin pencarian selama berbulan-bulan dari titik awal pendakian Rohan dua tahun lalu, melihat Pigi hidup dan bernapas di depannya terasa seperti ilusi.

​“Gusti Pangeran ...” desis Pak Wandra. Ia melangkah pelan, matanya berkaca-kaca menatap Pigi dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Nak, ini beneran kamu? Kamu ... masih hidup?”

​Pigi hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. ​Namun belum sempat Pak Wandra bertanya lebih lanjut, suara decit rem mobil yang berhenti mendadak di luar kembali mengalihkan perhatian semua orang.

Sebuah mobil MPV silver milik kepolisian terparkir tergesa-gesa. ​Pintu tengah mobil itu terbuka, dan seorang wanita paruh baya berhambur keluar dengan langkah gontai, nyaris tersungkur jika tidak ditopang oleh suaminya di sebelahnya.

​“Pigi ... Pigi!!” teriak wanita itu histeris, suaranya pecah belah menyayat hati.

​Mendengar suara yang sangat ia rindukan itu, tangis Pigi yang sejak tadi tertahan akhirnya meledak. Ia menyingkap selimutnya dan memaksakan kaki lemasnya untuk berdiri.

​“Ayah ... Ibu ...?” isak Pigi.

​Sang ibu menerjang masuk ke dalam aula, memeluk putranya dengan pelukan yang begitu erat seolah takut Pigi akan kembali lenyap. Tangisan histeris meledak di ruangan itu.

Sang ayah ikut memeluk keduanya, membenamkan wajahnya di bahu Pigi dengan bahu bergetar hebat. Dua tahun mereka menangisi pusara tanpa jasad, dan kini ... putra mereka kembali dalam pelukan, tanpa menua satu hari pun.

​Para ranger dan warga desa yang berkerumun di pintu aula ikut menunduk, beberapa menyeka air mata mereka. Momen haru itu terasa sangat sakral.

Tak lama berselang, rombongan kerabat dan keluarga kesembilan pendaki muda itu berdatangan, menyambut harapan semu yang sempat hilang dalam dua tahun terakhir.

Lihat selengkapnya