VAMANA

Hazsef
Chapter #36

Penghakiman

Udara Vamana telah menghilang. Mereka kini tidak lagi berada di pelataran jurang berbatu, melainkan berdiri di tengah-tengah sebuah ruang keluarga bergaya minimalis yang tampak sangat rapi dan terang.

​Edo tertegun sejenak, memutar kepalanya mencerna interior itu. Hanya butuh beberapa detik sebelum ia mengenali tempat ini.

Ini kan ... rumah Julita. Kok bisa? Apa mungkin ini ... teleportasi?

Namun saat ia hendak menyentuh meja makan di dekatnya, tangannya menembus kayu itu layaknya bayangan tak berwujud. Mereka ada di sana sebagai pengamat, bukan entitas fisik.

​Suara napas yang memburu terdengar dari arah belakang. Edo menoleh dan mendapati Julita berdiri mematung. Ekspresi kekasihnya itu tampak seolah baru saja melihat hantu.

Julita menatap ruang keluarganya sendiri dengan napas tersengal. Tubuhnya kaku di tempat, sedangkan matanya mulai berkaca-kaca penuh ketakutan.

​Edo segera mendekat dan memeluk bahu Julita dari samping, berusaha menenangkannya, namun gadis itu sama sekali tak merespons.

​Lalu, sebuah suara langkah kaki dan suara gemerincing kunci motor terdengar dari arah pintu depan. Muncullah seorang gadis berambut sebahu yang mengenakan pakaian kasual rapi, menyandang tas kecil di bahunya.

​“Julita?”

Edo menggumam heran, matanya agak menyipit saat melihat wujud lain kekasihnya sedang berjalan nyata di depannya. ​Tak lama berselang, seorang wanita paruh baya berdaster rapi keluar dari arah dapur, menyusul gadis itu.

​“Nak, kamu mau ke mana?” tanya ibunda Julita.

​“Kuliah, Bun,” jawab sosok Julita di memori itu dengan lancar tanpa beban.

​“Kuliah kok sore?”

​“I-iya, Bun. Ini ada jam sore sampek malem,” kilas Julita cepat, ekspresinya sangat meyakinkan. “Kalo ntar selesai agak larut, aku nginep kosan temen yah? Kan Sabtu besok libur.”

​“Emang ... temenmu itu cowok apa cewek?” tanya ibundanya memastikan.

​“Y-ya cewek lah, Bun. Aneh-aneh aja, hehe,” tawa Julita renyah, senyum manisnya terbentuk sempurna untuk meredam kecurigaan. “Ya udah, Bun. Aku berangkat ya. Assalamu’alaikum!”

​“Wa’alaikumsalam.”

​Tepat setelah sosok ibu itu berbalik, ruang di sekeliling Edo dan Julita mendadak terlipat, bergulung dan melingkar seperti kaset yang diputar cepat. Latar ruang tamu minimalis itu lenyap.

​Ketika sekeliling mereka kembali stabil, Edo mendapati latar sudah berganti ke halaman kos-kosan pria yang ia sewa bersama Santoso, Beni, Putra, Indra, dan Rozi.

Malam itu, visual memori menampilkan Adrian dan Pigi yang baru datang berboncengan naik motor bebek.

​Pada momen itu pula, sosok Julita tiba dengan motor matic-nya. Gadis itu turun dan memarkir kendaraannya, lalu dengan santai membaur ke dalam tongkrongan anak laki-laki itu.

Mereka bercanda, tertawa lepas, dan merokok hingga fajar menyingsing, sebelum Julita pamit pulang keesokan harinya, seolah kebohongannya pada sang ibu tidak pernah terjadi.

​Edo menatap memori itu dalam diam. Di sisinya, Julita yang asli kini sudah jatuh terduduk di atas lantai kosan ilusi tersebut. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan menahan malu dan penyesalan yang dikuliti paksa.

Edo membungkuk, berusaha mengusap bahu Julita untuk menghiburnya, bingung harus merespons seperti apa. ​Namun sebelum ia sempat membuka mulut, sebuah umpatan keras yang sangat familier meledak dari arah belakangnya.

Lihat selengkapnya