[08:45] Jalur Menanjak Vamana — Hari Kelima
Langkah-langkah berat mengukir jejak di tanah berdebu yang menuntut tenaga ekstra. Napas Adrian terdengar memburu, beradu dengan suara gesekan sepatu botnya yang berpijak di alas gembur dan akar-akar pohon pinus.
Jalur menuju punggungan bukit itu jauh lebih curam dari perkiraannya. Setiap langkah ke atas terasa kian berat, seolah gravitasi selalu membisikkan pilihan untuk mundur. Namun, sang pemimpin menolak untuk menyerah.
Di belakangnya, Indra dan Rozi terus membabat rintangan dengan sisa tenaga mereka. Sesekali, ia mendorong tubuh Adrian dari belakang saat pijakan pemuda itu mulai goyah.
“Dri, break dulu,” panggil Indra dengan napas tersengal-sengal. Keringat membanjiri wajahnya yang kotor oleh debu dan tanah. “Paha gua ... mulai kram.”
Adrian menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sekitar, lalu mengangguk saat melihat sebuah formasi akar pohon beringin raksasa yang cukup datar dan terlindung dari angin. “Oke, kita break bentar, 15 menit.”
Dengan sangat hati-hati, Adrian menurunkan Pigi dari punggungnya dan menyandarkan pemuda itu pada lekukan akar beringin. Indra dan Rozi langsung menghempaskan tubuh mereka ke tanah, meluruskan kaki yang gemetar hebat.
Rozi merogoh tas carrier yang ia panggul di depan dada, mengeluarkan sebungkus biskuit gandum yang sudah agak hancur. Ia menyodorkannya ke Pigi. “Gi, makan dikit gih!”
Sosok Pigi yang sedari tadi hanya diam menunduk, perlahan menggeleng lemah. Matanya setengah terpejam, menolak tawaran itu.
Melihat penolakan itu, Adrian bergegas mengambil botol minum dari saku samping tasnya. Ia berjongkok di hadapan Pigi, membuka tutup botolnya.
“Kalo lu nggak makan, seenggaknya lu minum,” ucap Adrian setengah memaksa, nadanya sarat akan kekhawatiran yang tulus. “Kalo lu dehidrasi, kita juga yang repot.”
Adrian menempelkan bibir botol itu ke mulut Pigi. Dengan gerakan kaku, sosok itu akhirnya merespons. Ia membuka mulutnya sedikit, membiarkan air membasahi tenggorokannya dan menelan satu-dua teguk dengan suara yang terdengar aneh, sebelum kembali memalingkan wajahnya.
Adrian menghela napas lega, menutup kembali botolnya. Ia ikut duduk selonjoran di sebelah Indra, memijat betisnya yang terasa kencang dan kaku.