[14:20] Tepi Aliran Sungai — Hari Kelima
Rencana untuk segera beranjak dari tempat peristirahatan itu hancur berantakan. Baru saja Julita bangkit untuk membenahi letak kain seweknya, ia kembali mengerang. Wajahnya yang semula sudah sedikit merona kini kembali memutih.
Rasa mulas itu datang lagi, kali ini jauh lebih tajam, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas organ dalamnya tanpa ampun. Darah haid kembali mengucur segar, merembes menembus lapisan kain tradisional yang ia kenakan.
“Jul!” Edo dengan sigap menahan tubuh Julita agar tidak jatuh ke tanah.
“Ughh—perut gue ... sakit banget,” rintih Julita, jemarinya mencengkeram lengan Edo hingga memutih.
Tak ada yang berani bersuara di tengah gemericik air sungai yang seolah ikut menertawakan mereka. Aroma amis darah yang baru kembali memenuhi udara, lebih pekat dari sebelumnya.
Edo dan Beni hanya bisa saling diam, tertahan di tempat itu hingga matahari mulai merendah ke cakrawala barat, membiarkan waktu tersedot habis oleh kondisi Julita yang memprihatinkan.
Barulah saat senja mulai menyapa dengan warna jingga yang suram, mereka memaksakan diri bergerak. Mereka harus mencari tempat berlindung sebelum kegelapan Vamana benar-benar mengunci hutan itu.
[17:45] Gua Kecil Lembah Vamana — Hari Kelima
Keberuntungan seolah masih menyisakan sedikit ampasnya. Di antara lekukan lembah yang berbatasan dengan aliran sungai, mereka menemukan sebuah cekungan gua pendek. Gua itu tidak dalam, namun cukup untuk melindungi mereka dari angin malam dan air pasang sungai.
“Kita bermalam di sini,” ucap Edo, menurunkan tasnya.
Setelah menata barang-barang, Julita menatap ke arah aliran sungai yang berada beberapa meter di bawah mereka. Tubuhnya terasa lengket dan kotor. Ia merasa harus membersihkan diri sebelum beristirahat.
“Do, gue mau ke bawah bentar. Mau bersih-bersih,” pamit Julita lirih.
Edo mengangguk tanpa ragu. Ia mengambil sebuah lampu lentera bertenaga baterai, menyalakannya, lalu menyerahkannya pada Julita. Namun, baru saja ia berbalik, tiba-tiba Julita mencubit lengan bajunya.
“Do, bisa ... temenin gue bentar, nggak?” mata gadis itu melirik ke arah luar gua yang mulai gelap.
“Jaga jarak aja, yang penting lo ada di sekitar situ. Ya?” pintanya memelas. Ia merasa ngeri jika harus sendirian.