VAMANA

Hazsef
Chapter #30

Ironi

[18:25] Pinggiran Sungai Berbatu — Hari Kelima

Kegelapan Vamana menyelimuti Beni yang masih berlutut di atas tanah lembap. Matanya nanar menatap pendar cahaya lentera yang semakin menjauh, dibawa pergi oleh dua orang yang baru saja menginjak-injak harga dirinya hingga rata dengan tanah.

​Rasa sakit di ujung bibirnya akibat pukulan Edo tidak sebanding dengan hancurnya ego di dalam dadanya. Kalimat penolakan Julita terus terngiang, berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyiksa kewarasannya.

​Di tengah kesendirian dan hawa dingin yang menusuk tulang, kewarasan Beni perlahan membusuk.

​“Brengsek. Bajingan lu, Do ...”

Beni mendesis dengan napas tersengal dan tubuh bergetar. Ia memukul tanah berlumut di bawahnya berulang kali. Air matanya menetes, bukan karena sedih, melainkan karena amarah murni yang tak bisa ia lampiaskan.

​Ia menatap tajam ke arah siluet Edo di kejauhan. “Andai aja ... andai aja gua pegang senjata sekarang ... bakal gua habisin lu!” kutuknya lirih namun penuh kebencian.

Wusss ...

​Tepat setelah kalimat itu terucap, hembusan angin dingin tiba-tiba menyapu tengkuk Beni, membawa khas aroma kemenyan bercampur bau amis darah yang samar.

Sementara dari jauh, sekitar lima belas meter dari sana, Edo dan Julita refleks menghentikan langkah mereka. Pendengaran mereka menangkap permintaan serampangan yang cukup mengkhawatirkan.

Keduanya menoleh ke belakang secara bersamaan, lalu melihat Beni menunduk. Tepat di atas akar pohon di samping lututnya, tergeletak sebuah keris dengan sarung kayu yang tampak mengkilap.

Ia meraihnya, lalu memperhatikan detail pusaka hitam itu dengan seksama. Di antara corak emas dan ukiran kuno sarung pedangnya, terdapat motif dua tubuh ular yang saling berhadapan. Mulutnya tertutup, namun lidah bercabangnya keluar.

Gagangnya terbuat dari kayu bercorak emas, berbentuk kepala ular dengan 4 taring dan mulut menganga. Dua permata merah kecil berkilat indah sebagai bola matanya.

Beberapa detik setelahnya, sebuah suara gesekan logam berdenging pelan, memecah suara gemericik air.

Sringgg ...

Bilah logam itu baru saja tercabut sempurna, memantulkan sisa cahaya bulan dengan kilau kehitaman yang mematikan.

​Beni terpana. Mulutnya sedikit terbuka. Ia menatap bilah keris itu seolah benda itu sedang berbisik langsung ke dalam dirinya, memberi semacam dorongan aneh untuk tidak takut apa pun.

Lihat selengkapnya