VAMANA

Hazsef
Chapter #31

Musuh Dalam Selimut

[18:35] Bibir Jurang Air Terjun — Hari Kelima

Keheningan yang mematikan menyelimuti Edo. Di bibir tebing vertikal yang menganga lebar itu, ia berdiri mematung dengan napas memburu dan dada yang naik-turun dengan kasar.

Matanya menatap nanar ke dalam kegelapan jurang di bawah kakinya.​Sementara dalam hati, ia menghitung durasi jatuhnya Beni sejak tubuhnya terlempar melewati semak-semak.

​Meski begitu, tidak ada rentetan suara dahan patah. Tidak ada suara gesekan tubuh dengan tanah atau rumput seperti saat Pigi tergelincir beberapa hari yang lalu.

Tubuh Beni jatuh bebas menembus udara kosong, layaknya sebongkah batu yang jatuh ke dalam sumur. ​Dan tepat di hitungan kelima, sebuah suara samar terdengar dari dasar jurang yang gelap.

Brak ... Byur!

​Suara hantaman keras yang beradu dengan air jeram itu terdengar sayup-sayup, namun cukup untuk menghancurkan kewarasan Edo. Satu kesadaran kecil langsung menghantam kesadarannya: Beni tidak mungkin selamat. Elevasi tebing itu terlalu ekstrem.

​Adrenalin yang sedari tadi mendidih di pembuluh darah Edo mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Seketika, kakinya lemas, hingga ia tak kuasa lagi berdiri dan jatuh berlutut di atas tanah berlumut. ​Bahu pemuda itu mulai bergetar, kepalanya tertunduk dalam-dalam, sebelum tangisnya pecah tak tertahankan.

Malam itu, Edo meringkuk, mencengkeram rambutnya erat sambil menangis tersedu-sedu. Tanpa ia kehendaki, tanpa terbesit niat membunuh sedikit pun, ia telah menghilangkan nyawa orang lain, yakni teman dekatnya sendiri.

​“G-gue ... udah jadi pembunuh,” racau Edo dengan suara serak yang memilukan. “Gue udah bunuh Beni ...”

​Dari jarak beberapa meter, Julita yang masih memegangi perutnya yang berdenyut nyeri, memaksakan diri untuk bangkit. Ia melangkah tertatih-tatih mendekati Edo yang sedang hancur. Gadis itu ikut bersimpuh di sampingnya.

​“Do ... Edo, dengerin gue,” ucap Julita dengan suara bergetar, mencoba menyentuh bahu pemuda itu. “Kalo lu nggak ngelakuin itu, kita sendiri bakal celaka. Ini pembelaan diri.”

​Namun kata-kata manis dan rasionalisasi logis tak lagi mempan menembus dinding penyesalan Edo.

​“Tapi ... dia temen kita, Jul! Temen kita!” isak Edo semakin keras, suaranya parau menyayat hati. “Gue ... gue harusnya bisa ngadepin dia ... tanpa harus begini ....”

​Melihat Edo yang begitu putus asa dan terus menyalahkan dirinya sendiri, pertahanan mental Julita pun ikut runtuh. Matanya berkaca-kaca, dan air matanya tumpah menderas.

Tanpa ragu, Julita merengkuh tubuh Edo, memberinya pelukan yang sangat erat. Edo membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di bahu Julita.

​Malam itu, di pinggir jurang Vamana yang menjadi saksi bisu kejatuhan manusia, keduanya menangis sejadi-jadinya. Sebuah pelukan keputusasaan untuk meredam rasa takut, trauma, dan penyesalan mendalam yang akan menghantui sisa hidup mereka.


Lihat selengkapnya