[00:00] Hutan Lumut — Hari Keenam
Tepat saat malam mencapai puncak tertingginya, kelopak mata Santoso perlahan mengerjap. Butuh waktu hampir lima menit baginya untuk sekadar mengumpulkan tenaga demi bangkit duduk.
Kepalanya berdenyut hebat, pandangannya berputar. Rasa ngilu yang luar biasa menusuk tengkorak kirinya.
“Uggh ... sakit, anj*nk!” erang Santoso memegangi pelipisnya yang kini tertutup kerak darah kering.
Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, ia memicingkan mata ke sekeliling. Sepi. Dingin. Tak ada siapa pun di sana. Hanya batu seukuran buah naga dengan bercak darah miliknya yang menjadi saksi bisu pengkhianatan di dekat lututnya.
“Put—BABI GENDUT SIALAN!! KABUR KE MANA LO, ANJ*NK?!!”
Santoso mengumpat sekencang-kencangnya, melepaskan seluruh amarah, pengkhianatan, dan rasa sakit yang mengoyak dadanya. Teriakannya menggema, memecah keheningan hutan yang gelap.
Tak lama berselang, sebuah suara gesekan dedaunan dan ranting patah terdengar dari arah sudut semak-semak yang gelap gulita.
Sresek ... krak.
Suara itu mengendap, seperti tertahan oleh satu aktivitas tertentu, bukan sesuatu yang alami. Kemudian, sebuah siluet bayangan berpostur besar dan tambun terlihat samar dari kejauhan.
Bibir Santoso langsung membentuk seringai kejam. Ia mengira Putra sedang tersesat dan kebingungan mencari jalan keluar. Tanpa ragu, Santoso meraih batu berdarah di dekatnya, bangkit berdiri, dan berjalan menghampiri siluet itu dengan niat membunuh yang membara.
Namun, tepat ketika sosok besar itu berbalik dan melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, langkah Santoso terhenti mendadak. Tubuhnya membeku. Sosok bertubuh tambun itu ... ternyata bukanlah Putra.
Sesosok makhluk berbulu hitam tebal, dengan sepasang gading melengkung keluar dari rahang mulutnya, meneteskan liur kental yang berbau bangkai. Sepasang matanya menyala merah terang, menatap Santoso seolah menatap sebongkah daging segar.
“Whoa—anj*nk! Setaann!” jerit Santoso panik. Ia membuang batunya dan berbalik arah, berlari sekencang mungkin.
Namun baru beberapa langkah kakinya menerjang kegelapan, ujung sepatunya tersandung akar pohon besar yang melintang di jalur tanah lembap.