[00:15] Tepian Jurang Air Terjun — Hari Keenam
Di bawah gundukan tanah tinggi yang memblokir angin malam, terdapat sebuah lubang cekungan sedalam 3x3 meter dengan pelataran datar selebar 5 meter. Tempat itu menyerupai sebuah halte kecil alami yang tersembunyi.
Namun halte ini tak berujung pada jalan setapak, melainkan langsung terputus oleh bibir jurang vertikal yang menganga. Di dasar jurang yang gelap gulita itu, suara gemuruh air sungai berpadu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian malam.
Di atas tanah datar yang diapit oleh dinding cekungan kecil sebagai tempat berteduh itu, dua anak manusia duduk saling merengkuh, mencari sisa-sisa kewarasan yang nyaris direnggut oleh Hutan Lumut.
Tangis Edo sudah mulai mereda, menyisakan napas yang sesenggukan dan tatapan kosong. Julita masih memeluknya erat, mengusap punggung pemuda itu dengan lembut, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah udara pegunungan yang menusuk tulang.
“Do ... Edo, udah, jangan nangis ...” ucap Julita lembut. Ia mengurai pelukannya, menangkup wajah Edo yang berantakan dengan kedua tangannya yang dingin. “Kita pasti bisa lewatin ini semua.”
Edo menatap mata gadis itu. Ada rasa bersalah yang teramat dalam di sana. “Tapi karena gue ... Beni—”
“Do, gue yang harusnya minta maaf,” potong Julita cepat, suaranya tegas namun penuh kelembutan. “Kalo aja ... kalo aja gue nggak keras kepala ngajak kalian turun susur sungai ... kalo aja gue mau dengerin omongan Adrian ... Beni nggak bakal mati, dan lo nggak bakal nanggung beban ini. Ini semua salah gue, Do.”
Mata Julita kembali berkaca-kaca. Pertahanan gadis itu ikut runtuh saat menyadari betapa fatal keputusannya menentang sang ketua rombongan. Namun, melihat Julita menyalahkan dirinya sendiri justru membuat insting protektif Edo kembali bangkit.
“Enggak, Jul. Lu nggak salah,” sanggah Edo pelan. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Julita yang berada di pipinya. “Kita semua lagi panik. Tapi yang penting ... lu selamat.”
Julita terdiam. Ia menatap lekat-lekat mata pemuda di hadapannya itu. Dalam situasi yang berada di ujung tanduk, di mana nyawa terasa sangat murah, Julita merasa tak ada lagi waktu untuk memendam apa yang selama ini ia sembunyikan.
“Do, gue ...” panggil Julita lirih, suaranya nyaris bergetar. “Gue sebenarnya udah lama suka sama lo.”
Edo tertegun. Matanya sedikit melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar di tengah situasi sekelam ini. Otaknya butuh beberapa detik untuk memproses pengakuan itu.
“H-hah? Lu ... suka ... sama gua?” ulang Edo dengan nada tak percaya. “Tapi ... selama ini lu selalu deket sama Beni. Gua kira ... lu suka sama dia. Makanya gua ....”
Edo menelan ludah, mengingat rasa cemburunya yang memuakkan setiap kali melihat Beni mencoba mencari perhatian Julita.