VAMANA

Hazsef
Chapter #35

Vonis

[05:15] Jalur Menanjak — Hari Keenam

Semburat fajar perlahan menyapu langit timur pegunungan, mengusir sisa-sisa hawa malam yang membekukan tulang.

Di sebuah pelataran datar yang terlindung formasi akar beringin raksasa, Adrian, Indra, dan Rozi baru saja menyelesaikan ibadah salat Subuh mereka dengan tayamum seadanya.

​Pagi itu, secercah harapan kembali menyala di dada mereka. Punggungan bukit yang menjadi target utama kini sudah terlihat jelas di depan mata, menyembul di balik tipisnya kabut pagi.

Perkiraan Adrian, hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit berjalan kaki untuk mencapainya.

​Untuk mengumpulkan tenaga terakhir, mereka segera menyiapkan kompor nesting. Air dididihkan, lalu disusul dengan menanak sisa beras yang tak seberapa.

Sebagai lauk pendamping, Indra dan Rozi merebus daun pohpohan dan pakis muda yang mereka petik di sekitar area kamp, lalu menaburkan abon kering dan sisa bawang goreng ke atasnya sebagai penyedap rasa.

​Aroma sederhana itu terasa layaknya hidangan termewah di tengah keputusasaan. Adrian, Indra, dan Rozi menyantapnya dengan nikmat.

Porsi mereka tidak banyak—hanya sekitar segenggam tangan orang dewasa—namun karbohidrat hangat itu cukup untuk memanaskan kembali mesin tubuh mereka.

​Anehnya, saat ditawari, sosok Pigi yang bersandar di akar pohon justru menggeleng lemah. Pemuda pucat itu menolak makanan hangat tersebut.

​“Lu harus makan, Gi. Biar kuat,” bujuk Rozi menyodorkan nesting.

​“Ng-nggak usah, Zi ...” tolak Pigi dengan suara serak dan bergetar. Tangan dinginnya merogoh saku tasnya, mengeluarkan sepotong camilan biskuitnya sendiri.

“Kalian aja ... yang habisin. Gue kan ... dari kemaren ... cuman digendong.”

​Mendengar alasan yang begitu tulus dan mengutamakan kelompok itu, hati Adrian, Indra, dan Rozi seketika luluh. Rasa haru menyelimuti mereka.

​“Lu tenang aja, Gi,” ucap Adrian mantap, menepuk pelan bahu sosok di hadapannya. “Kita pasti bakal nemuin jalan keluar. Nanti pas nyampek bawah, kita langsung bawa lu ke klinik, abis itu kita makan enak bareng-bareng.”

​Setelah menghabiskan sarapan, ketiganya kembali berkemas. Adrian kembali berjongkok dan menggendong Pigi di punggungnya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju punggungan bukit yang disinari cahaya pagi.


[05:30] Tepian Jurang Air Terjun — Hari Keenam

Di saat fajar menyinari jalur atas dengan cerah, kondisi yang sangat kontras terjadi di pelataran halte alami dekat aliran air terjun. Suasana di tempat itu masih sangat remang, terkurung oleh bayangan tebing dan kabut lembap yang menolak pergi.

​Di atas tanah datar itu, Edo dan Julita perlahan membuka mata. Tubuh mereka masih saling merengkuh erat di bawah lindungan satu sleeping bag milik Julita yang dijadikan selimut, sementara milik Edo dijadikan alas.

Lihat selengkapnya