[06:15] Punggungan Bukit — Hari Keenam
Angin pagi berembus cukup kencang, menyapu sisa-sisa kabut di atas punggungan bukit. Langit biru yang membentang sejauh mata memandang, perlahan mulai menampakkan keindahannya.
Setelah perjuangan yang menguras keringat dan air mata, Adrian, Indra, dan Rozi akhirnya berhasil menjejakkan kaki di titik terbuka dari jalur pepohonan rindang di belakang mereka.
Namun, belum sempat helaan napas lega saling bertukar sapa, tanah di bawah sepatu mereka tiba-tiba mulai bergetar, merambat melewati akar-akar, sebelum suara gemuruh panjang menyusul dari kejauhan.
Drrtt ... drrtt ... drrtt—Drumm!
Ketiga pendaki itu refleks tiarap dan berpegangan erat pada bebatuan di dekat mereka, sebelum menoleh serempak ke arah sumber suara di lembah bawah.
Dari ketinggian punggungan bukit itu, mata mereka menangkap pemandangan yang mengerikan. Tepat di area tebing aliran sungai yang membelah hutan, sebagian besar dinding tanah dan bebatuan tampak longsor hebat.
Kepulan debu cokelat pekat membubung tinggi ke udara, menelan apa pun yang ada di bibir jurang itu hingga amblas ke dasar air terjun.
Suasana hening sejenak. Indra menelan ludah, wajahnya memucat membayangkan jika mereka memaksakan diri melewati rute itu semalam.
“A-anjirr ... untung kita nggak ambil jalur sungai. Kalo iya ...” gumam Rozi dengan suara bergetar. “Uhh ... ayahab!”
Adrian mengangguk pelan. Ada kelegaan yang luar biasa di dadanya karena berhasil membawa sisa kelompoknya menjauh dari bahaya.
Namun, saat menatap debu longsoran yang perlahan tersapu angin itu, raut wajah sang ketua kembali diselimuti oleh kecemasan.
“Iya, Zi. Tapi jalur sungai di bawah sana pasti sekarang keputus total,” ucap Adrian dengan nada berat.
“Moga aja ... mereka bisa nemuin jalur yang lebih aman.”
Mata pemuda itu menatap nanar ke arah lembah yang jauh. Sisa-sisa debu longsoran itu perlahan memudar disapu angin pagi. Membawa pergi doa tulus sang ketua, sekaligus menutup rapat-rapat jerit keputusasaan yang takkan pernah lagi mencapai telinga teman-teman mereka.