VAMANA

Hazsef
Chapter #43

Debat

Sang Putri akhirnya datang. Ia menegaskan keputusannya, lalu memberi selamat kepada Indra dan Rozi. Keduanya, bersama Adrian dan Pigi, adalah sosok yang diakui Sang Putri sebagai manusia yang layak.

Ia mengutus salah satu abdinya untuk menuntun mereka keluar dari Hutan Vamana, dengan cara menjelma menjadi sosok Pigi.

Semua itu dilakukan supaya Adrian, Indra dan Rozi tidak mempertanyakan lagi bantuan Sang Putri, atau bahkan menganggapnya sebagai jebakan.

Sang Putri tahu itu, dan ia ingin para manusia itu tahu kalau Sang Putri tidaklah serendah itu. Ia tetap punya adab dan harga diri untuk berlaku adil sebagai pemimpin di tempat itu.

“Sampeyan sampun rampungaken Ujian Vamana—Ujian 7 Pagebluk—ingkang rekaos. Nanging, menika dereng bibar.”

(“Kalian sudah menyelesaikan Ujian Vamana—Ujian 7 Pagebluk—yang sulit. Namun, ini belumlah usai.”)

Sontak, ucapan Sang Putri membuat napas Indra tertahan, sementara Rozi tampak bingung. Setelah Indra membisikkan arti perkataan Sang Putri, barulah Rozi mengerutkan alis.

Tubuh mereka bergetar. Ludah mereka seakan menelan rasa takut melewati tenggorokan. Namun, tekad mereka tidak goyah.

“Radin teng kawisan paling celak taksiha tebih. Siro boten badhe saged kuwawi.”

(“Perjalanan menuju permukiman terdekat masih sangat jauh. Kalian tidak akan sanggup bertahan.”)

Sang Putri langsung melirik ke arah tas Indra dan Rozi yang sudah kembang kempis. Ia tahu, apa yang disembunyikan oleh dua pria itu.

“Siro mangertos pawingkingipun. Punapa ajèg majengaken?”

(“Kalian pasti tahu konsekuensinya. Kenapa tetap melakukannya?”)

Indra menelan ludah. Ia melirik singkat Rozi, lalu mengarahkannya ke tas mereka. Tanpa terjemahan, Rozi pun langsung paham.

Kedua pendaki muda itu lalu menghela napas panjang, sebelum Indra mewakili untuk menjawab pertanyaan itu.

“Amargi ... pancen mekaten.”

(“Karena ... memang begitulah seharusnya.”)

Alis Sang Penguasa Vamana langsung mengerut. Ia menatap raut wajah tanpa beban dua manusia muda itu, seolah itu adalah kehendak takdir yang tak terelakkan.

“Sanjang kemawon, kula saged lajeng ateraken siro majenge kawisan samangke.”

(“Tinggal katakan saja, dan aku bisa mengirim kalian langsung ke depan permukiman saat ini juga.”)

Sang Putri bermaksud memberi Indra dan Rozi bantuan, dengan tawaran yang cukup menggiurkan. Namun, Indra punya pendapat lain.

“Riyen, kami salajeng acuh. Kathah. Sakmenika ... kami badhe mitadosanipun. Kami badhe manggen uga ngantosipun ing mriki. Pandega kami.”

(“Dulu, kami selalu mengabaikan nasihatnya. Berkali-kali. Dan sekarang ... kami akan mempercayainya. Kami akan tinggal dan menunggunya di sini. Ketua kami.”)

Mata Sang Putri langsung terbelalak. Ia sama sekali tak menyangka jawaban itu akan keluar dari mulut seorang pria yang selalu menganggap remeh segala hal.

“Siro badhe pejah langkung riyen.”

(“Kalian akan mati sebelum itu terjadi.”) Sang Putri memperingatkan.

Indra terdiam sejenak. Ia kembali melirik Rozi, sebelum senyum tipis tergambar di wajahnya.

“Kanjeng Putri ... seda niku napa?”

(“Tuan Putri ... apa itu mati?”)

Sang Putri menyipitkan mata. Pertanyaan itu terdengar terlalu sederhana untuk konteks mereka.

Lihat selengkapnya