[13:15] Jalur Tak Dikenal — Hari Keenam
Terik matahari siang memanggang sela-sela kanopi Hutan Vamana, mengusir kabut dan menyisakan udara lembap yang mencekik paru-paru. Di tengah kesunyian belantara itu, suara langkah kaki yang terseret paksa memecah keheningan.
Putra berjalan gontai, napasnya memburu layaknya hewan buruan yang kelelahan. Wajah pemuda tambun itu pucat pasi, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi parah, dan seragam flanelnya basah kuyup oleh keringat.
“Adri ... Indra ... Rozi ... kalian di mana ...?” rintihnya parau. Suaranya nyaris habis tertelan luasnya hutan. Matanya yang sayu menatap ke sekeliling, mencari sisa jejak teman-temannya.
“Edo ... Julita ... Beni ...” panggilnya lagi, kali ini diiringi isak kecil yang menyedihkan. Air matanya bahkan sudah tak sanggup menetes.Langkahnya semakin tertatih. Otot kakinya menjerit protes di setiap pijakan.
Putra terlihat persis seperti pendaki malang yang dibuang oleh kelompoknya. Wajahnya memelas, menyimpan keputusasaan dari seseorang yang hanya ingin pulang. Ia merasa menjadi korban dari keadaan, meratapi nasibnya yang ditinggalkan sendirian di tengah entah berantah.
Hutan di sekitarnya tampak sangat normal, layaknya hutan tropis pada umumnya di siang hari, namun justru kesunyian yang normal itulah yang perlahan menggerogoti sisa kewarasannya.
Di ambang batas tenaganya, telinga Putra tiba-tiba menangkap suara gemericik air. Dalam sekejap, matanya langsung menyapu ke sekeliling hutan, memindai arah datangnya suara itu.
Ketika pendengarannya menuntun langkah kakinya menembus semak belukar, bola matanya langsung berbinar liar.
Dengan sisa tenaganya, Putra mendorong batas fisik tubuhnya hingga ia sampai di tepian sungai kecil berbatu yang airnya mengalir jernih.
Tanpa pikir panjang, pria gemuk itu segera berlutut di tepian dan mencelupkan kedua tangannya. Ia meraup air sungai yang tampak segar itu, lalu meneguknya dengan rakus.
Air dingin itu membasahi kerongkongannya yang kering bagai oase di padang pasir. Ada sedikit sisa rasa tanah yang samar di ujung lidahnya, namun ia tak peduli.
Ia kembali minum, walaupun sesekali ia tersedak di sela-sela tegukan, seolah ia sanggup meneguk aliran sungai itu hingga kering kerontang.
Tak lama, ia tertawa pelan, merasa aman karena berhasil menemukan sumber kehidupan, tanpa menyadari bahwa harapan kecil itu takkan pernah cukup untuk menyelamatkannya.
[16:45] Rute Batuan Putih — Hari Keenam
Jauh dari tempat Putra berada, sisa kelompok Adrian terus melangkah menembus jalur hutan dengan pilar-pilar cahaya sore yang menghangatkan.
Sesuai instruksi yang dibisikkan dari balik punggung sang ketua, mereka mengikuti jejak bebatuan putih yang menyembul di antara tanah gelap.
Rute itu memang tidak rata dan naik-turun, namun pijakannya sangat solid dan relatif aman dari bahaya longsor.
Pada satu titik, Adrian sempat menoleh ke belakang, melihat kembali ke rute yang sebelumnya ia petakan sendiri di atas kertas.