VAMANA

Hazsef
Chapter #39

Gangguan

[01:15] Kamp Tepian Jalur — Hari Ketujuh

Hutan Vamana telah sepenuhnya ditelan kegelapan. Udara malam yang dingin merayap masuk dari balik celah tenda, sementara dengkuran Indra yang cukup nyaring menjadi satu-satunya irama yang menemani kesunyian.

​Di tengah malam gulita itu, Rozi mengigau pelan. Kesadarannya perlahan ditarik ke permukaan, namun ia segera menyadari ada yang salah.

Kelopak matanya bisa terbuka, ia bisa melihat langit-langit tenda yang gelap, namun seluruh otot di tubuhnya terkunci rapat. Ia tak bisa bergerak seinci pun.

​Napas Rozi mulai memburu. Dalam kondisi setengah sadar dan terjebak di tubuhnya sendiri, pendengarannya tiba-tiba menangkap sebuah suara dari luar.

Sreeek ... sreeek ... sreeek ...

​Itu suara langkah kaki. Sesuatu atau seseorang sedang menyeret kakinya di atas tanah berbatu, berjalan mengitari tenda mereka.

​Tensi ketegangan di dada Rozi melonjak drastis. Ia panik, lalu mencoba membangunkan Indra di sisi kiri dan Adrian di kanannya.

Namun usahanya sia-sia. Tak ada respons apa pun selain dengkuran Indra yang seolah tak terganggu oleh ancaman di luar sana. Tak lama berselang, suara ritsleting pintu tenda berderit lirih.

Srrtttt ...

​Ada sesuatu yang membuka pintu itu perlahan dari luar. Embusan angin malam yang kelewat dingin langsung menerobos masuk, menjalar melewati kantong tidur (sleeping bag) sebelum mengusap kasar kulit wajah Rozi.

​Bulu kuduk Rozi meremang hebat. Keringat dingin mulai merembes dari pori-porinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat seraya berdoa dalam hati.

Namun, keteguhan rapuh itu seketika runtuh saat sebuah tangan dengan kulit pucat kering yang terasa dingin, perlahan merayap naik ke pergelangan kakinya.

​Dengan sisa keberanian yang ada, Rozi membuka matanya sedikit, melirik lewat sudut matanya ke arah pintu tenda. ​Dan seketika itu juga, jantungnya seakan berhenti.

​Sesosok makhluk berambut gimbal panjang, berbalut pakaian putih yang sudah lusuh dan robek, tampak merangkak masuk mendekatinya.

Matanya hitam legam dengan pupil berwarna merah darah yang menyala. Lidahnya sesekali menjulur hingga leher, giginya runcing tak beraturan, sedangkan jari-jari pucatnya dihiasi kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam.

Lihat selengkapnya