VAMANA

Hazsef
Chapter #40

Si Pengecut Yang Tamak

[1:20] Kedalaman Hutan Vamana — Hari Ketujuh

Air sungai yang mengalir ke kerongkongannya beberapa saat lalu ternyata hanyalah ilusi keselamatan sementara. Alih-alih memulihkan tenaga, air dingin itu justru memicu kontraksi hebat di lambungnya yang kosong melompong.

​Putra kini terkulai lemas, bersandar pada akar pohon beringin raksasa dengan napas tersengal. Ia telah mencapai batas antara kelaparan, kesabaran, dan kewarasan.

Perutnya berbunyi nyaring, melilit ususnya seolah sedang memakan dirinya sendiri. Kepalanya pusing, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

​Di momen yang krusial dan putus asa itulah, ingatan Putra tiba-tiba tertuju pada saku celananya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku kargonya yang kotor, menarik keluar dua buah tusuk konde emas—pusaka ajaib—yang masih ia simpan erat.

​Mata Putra menatap dua benda mengkilap itu dengan sisa-sisa kewarasan yang menipis. Tanpa ragu, ia menggenggam satu tusuk konde erat-erat.

​“G-gua ... laper ... haus ...” bisiknya parau, suaranya bergetar menahan perih di perut. “Gua mau makanan dan minuman ... yang melimpah,” pintanya dengan mata terpejam.

​Dalam hitungan detik, tusuk konde pertama di tangannya menguap menjadi serbuk cahaya keemasan, lalu lenyap ditiup angin hutan.

​Putra menanti dengan harap-harap cemas. Hutan di sekitarnya masih hening. Namun beberapa detik setelahnya, angin lembut dan hangat berembus dari belakang punggungnya.

Bau tanah basah mendadak tergantikan oleh aroma rempah-rempah yang tajam, wangi nasi hangat, dan gurihnya daging panggang.

​Ketika Putra menoleh, matanya pun membelalak. ​Di atas hamparan rumput hijau, sebuah prasmanan yang begitu menggugah selera tersaji di atas daun pisang yang lebar dan bersih.

Aneka menu makanan seperti sate daging, ayam bakar, tumpeng nasi kuning yang mengepul, hingga rupa-rupa jajanan pasar berjejer rapi, berdampingan dengan kendi tanah liat berisi minuman segar.

​Mata pria tambun itu berbinar liar, air liurnya menetes. Namun, belum sempat ia menyentuh hidangan itu, satu ketakutan baru tiba-tiba membuat hatinya bimbang.

Ntar kalo makanan ini abis, terus nasib gua gimana?

Saat ia berpikir keras mencari jawaban, sebuah ide cemerlang kemudian melintas di kepalanya. Seringai serakah mulai merusak wajah pucatnya.

Lihat selengkapnya