[08:05] Rute Bebatuan Putih — Hari Ketujuh
Setelah melewati malam yang mencekam dan penuh teror, fajar di hari ketujuh menyingsing, membawa sisa kelompok itu melangkah lebih jauh menyusuri rute bebatuan putih.
Udara Hutan Vamana masih terasa lembap, namun kanopi pepohonan yang mulai merenggang membiarkan lebih banyak cahaya matahari menembus dasar hutan.
Sejak terbangun dari mimpi buruknya semalam, Rozi menjadi jauh lebih pendiam. Nalurinya terus berdengung, memaksanya menjadi lebih peka dan skeptis terhadap lingkungan sekitar, terutama terhadap gerak-gerik Pigi.
Sambil memanggul beban berat di barisan belakang, mata Rozi terus mengawasi pemuda pucat yang bertengger di punggung Adrian itu. Tak lama, ia menangkap satu kejanggalan yang membuat alisnya mengerut.
Saat tenaganya, Indra, dan Adrian semakin habis terkuras di hari ketujuh, sosok Pigi justru tampak lebih “hidup” dan menyatu dari biasanya.
Beberapa luka memar dan goresan di tangan pucat itu terlihat mulai mengering, seakan beregenerasi dengan sendirinya, meskipun gerak-geriknya masih terlihat lemas untuk ukuran orang normal.
Namun tak ada yang bisa ia pegang selain firasatnya sendiri. Tak lama, prasangka itu pun perlahan menguap, seiring kaki mereka yang terus melangkah meniti jalan berbatu.
[09:14] Rute Bebatuan Putih — Hari Ketujuh
Sekitar satu jam kemudian, mereka berhenti sejenak di sebuah bongkahan batu besar untuk mengatur napas. Setelah sepuluh menit beristirahat, Adrian menjadi orang pertama yang bangkit.
Tanpa banyak mengeluh, sang ketua kembali berjongkok dan menggendong Pigi ke punggungnya, lalu melangkah lebih dulu di depan.
Di belakangnya, Rozi pun ikut bangkit untuk memanggul tasnya dan tas milik Pigi. Namun kali ini, tubuhnya seperti tertahan sejenak. Matanya menatap lekat pada tas carrier Pigi yang tergeletak di tanah.
Sudah berhari-hari ia memanggul tas ini, dan—anehnya—ia merasa beban di dalamnya tak berkurang sedikit pun. Sebenarnya hal itu wajar, mengingat Pigi hanya mengeluarkan sedikit logistik seperti camilan atau minuman dalam botol.
Namun, entah kenapa rasa penasaran Rozi justru makin memuncak. Ia menyempatkan momen singkat itu untuk menarik sedikit ritsleting di bagian atas tas Pigi, lalu mengintip barang bawaan di dalamnya.
Seketika itu juga, mata Rozi terbelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Di dalam tas carrier itu, tidak ada pakaian, tidak ada sleeping bag, apalagi botol minum. Hanya bongkahan batu-batu yang terbungkus rapi oleh tumpukan dedaunan basah.
Napas Rozi tercekat. Tangannya mulai gemetar. Teror yang ia alami semalam, seakan membisikkan semacam firasat. Sesuatu, atau sosok yang digendong Adrian saat ini, bukanlah Pigi yang selama ini mereka kenal.
Rozi masih mematung, tubuhnya terasa kaku. Di sebelahnya, Indra yang baru saja memanggul tas Adrian menoleh dengan dahi berkerut.
“Zi, ngapain lu bengong? Ayo kita—”
Kalimat Indra terputus di udara. Tatapannya tak sengaja jatuh pada celah ritsleting tas di tangan Rozi yang masih sedikit terbuka.
Mata Indra langsung membulat sempurna. Napas pemuda berbalut perban itu tertahan tajam. Keduanya larut dalam keheningan yang mencekik.
Indra perlahan mengangkat wajahnya, melirik ngeri ke arah punggung Pigi yang menjauh di depan sana, lalu kembali menatap mata Rozi yang bergetar.
Udara di sekitar mereka terasa membeku. Tanpa sepatah kata pun terucap, sebuah pakta sunyi terbentuk di antara keduanya. Mereka sadar, salah satu langkah bisa berisiko membuat Adrian dalam bahaya.