VAMANA

Hazsef
Chapter #52

Tumbang

[18:30 WIB] Base Camp Sarkara — Hari Kesembilan

Dikawal oleh keempat pendaki yang menemukannya di Danau Taman Hidup, Adrian akhirnya tiba di batas peradaban yang sesungguhnya. Deretan warung kayu, keramaian para pendaki, dan pijar lampu bohlam kekuningan yang benderang menyambut kedatangannya.

​Begitu ketua rombongan pendaki itu menunjuk ke arah posko pendaftaran SIMAKSI, Adrian tak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung berlari tergesa menuju posko tersebut, sementara empat pendaki lainnya mengikuti dari belakang.

​“Selamat malam, Pak!” sapa Adrian dengan napas memburu.

​“Malam,” balas Pak Dadang—petugas ranger senior di balik meja—dengan alis mengerut.

​Cahaya lampu bohlam di Pos SIMAKSI yang sedikit remang kekuningan itu, perlahan menyingkap wajah Adrian yang tampak sangat kusam dan berantakan.

Selama beberapa saat, Pak Dadang terdiam menatapnya. Entah kenapa, veteran pria paruh baya itu merasa tidak asing dengan raut wajah pemuda di hadapannya.

​“Ada perlu apa, Nak? Kenapa tubuhmu lusuh sekali?” tanyanya heran.

​“S-saya abis nyasar, Pak. Sama rombongan saya,” jawab Adrian cepat, nada suaranya dipenuhi urgensi.

​“Rombongan?” Alis Pak Dadang semakin mengerut. “Rombongan dari mana?”

​“Dari Jakarta, Pak,” jawab pemuda itu.

​“Kamu ketuanya?” tanya Pak Dadang sembari membalik perlahan halaman buku besar catatan tamu di meja pos yang sekilas mirip seperti loket.

​“Ya, Pak,” angguk Adrian mantap.

​“Atas nama ...?” tanya sang petugas lagi, sementara telunjuk tangannya bergerak naik-turun memindai daftar nama kelompok pendaki asal Jakarta di halaman yang kosong.

​“Adrian.”

​Segera setelah nama itu terucap, mata Pak Dadang langsung membulat. Gerakan tangannya membeku di udara. Tubuhnya bahkan sedikit tersentak ke belakang, sebelum kepalanya terangkat pelan.

​Salah satu penjaga hutan senior itu kemudian menatap wajah Adrian dalam-dalam. Tak lama, sorot matanya berubah drastis, menyiratkan keterkejutan luar biasa yang berusaha keras ia sembunyikan, sebelum helaan napas panjang nan berat terdengar lepas di udara.

​“Apa rombongan Mas Adrian itu ... berangkat tertanggal 17 Desember 2009?” tanya Pak Dadang dengan tatapan menyelidik.

​“Iya, Pak. Betul! Itu rombongan saya,” jawab Adrian semringah, mengira ia akhirnya akan segera menyelesaikan proses administrasi dan pengerahan bala bantuan. ​Namun, reaksi orang-orang di sekitarnya justru sebaliknya.

​Pak Dadang kembali menghela napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya dari balik meja Pos SIMAKSI. Sementara keempat pendaki itu—yang mengantar Adrian dari Danau Taman Hidup—seketika tersentak hebat.

Lihat selengkapnya