[04:45] Desa Sitala — Hari Kesembilan
Suara ayam berkokok perlahan membangunkan tidur Adrian. Setelah duduk sejenak, ia pun bangkit dan langsung mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban Subuh.
Di sisi lain, bahkan sebelum ayam berkokok, Nenek Sulasmi ternyata sudah sibuk memasak sesuatu di dapur selayaknya kebiasaan rajin ibu-ibu di daerah pedesaan.
Lalu, tepat saat Adrian selesai berdoa, Nenek Sulasmi datang dan membawakan makanan yang dibungkus daun pisang untuknya, seperti lemper, lepet, klepon, dll.
“Bawa ini, Nak. Biar kamu tidak kelaparan di jalan.”
“Waduh, Nek ... nggak usah repot-repot. Saya kan jadi sungkan,” tolak Adrian halus. Ia kembali merasa tidak enak, lantaran bingung bagaimana harus membalas kebaikan itu.
“Tidak perlu, Nak,” Nenek Sulasmi menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tapi jika kamu memang ingin membalas budi, sampaikan saja salamku pada anakku di desa itu.”
Adrian pun mengangguk canggung. Ia masih tak memiliki gambaran atas anak Nenek Sulasmi. Namun, ia memilih diam, menduga kalau nama wanita tua itu sudah cukup terkenal di Desa Sarkara.
“Satu lagi, Nak,” suara Nenek Sulasmi kembali menyita fokus Adrian. “Kalau nanti terdengar suara gemuruh, atau kabut tebal datang menutupi jalanmu ... jangan ikuti cahaya,” pesannya tegas.
Adrian sempat tertegun sejenak, berusaha mencerna kata-kata misterius itu. Namun waktu tak menunggunya mendapat jawaban. Dengan agak sungkan dan tergesa, pemuda itu pun langsung berpamitan.
“Baik, Nek. Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucapnya dengan senyum hangat. “Nanti saya ajak anak nenek kemari, selagi saya tuntun jalan para regu penyelamat buat jemput teman-teman saya.”
Adrian pun lantas menunduk dan menyalami tangan Nenek Sulasmi, sebelum ia berbalik menatap fajar yang mulai mengintip dari balik bayangan bukit.
Namun belasan langkah kemudian, kakinya terhenti, sebelum ia berbalik dan menyempatkan diri menyampaikan perasaannya yang terdalam.
“Nenek Sulasmi! Terima kasih banyak!” serunya sambil melambai penuh semangat. “Nanti saya mampir lagi!”
Setelahnya, Adrian berbalik dan langsung berlari cepat melewati jalanan menanjak menuju ke Desa Sarkara. Sementara di belakangnya, Nenek Sulasmi menggumam sendiri.
“Tidak, Nak. Nenek lah yang terima kasih,” ucapnya sambil menatap pemuda itu lekat-lekat, hingga sosoknya perlahan menghilang di antara vegetasi pepohonan yang sedikit longgar.
[07:12] Puncak Bukit Pertama — Hari Kesembilan
Dengan napas terengah, Adrian akhirnya mencapai puncak bukit. Namun perjuangannya belum usai. Ia masih harus menuruni lembah dan mendaki satu bukit lagi.
Ia beristirahat sejenak—sekitar 15 menit—dan duduk mengatur napas sambil makan sebungkus lemper isi ayam suwir, sebelum kembali bangkit dan lanjut turun ke bawah.
[08:05] Suatu Lembah — Hari Kesembilan
Tidak sampai satu jam, Adrian sampai di dasar lembah. Namun tepat di momen itu, ia mendengar suara gemuruh seperti ombak besar yang samar, namun cukup terasa.