VAMANA

Hazsef
Chapter #58

Pencarian

[05:40 WIB] Desa Sarkara

Udara pagi di Base Camp Sarkara terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana santai seperti hari-hari biasa. Deretan motor trail terparkir rapi di pelataran, sementara beberapa tenda darurat berdiri di sisi lapangan terbuka.

Orang-orang berlalu lalang membawa peralatan ekspedisi—tali, tandu lipat, radio komunikasi—dengan wajah serius dan langkah yang cepat.

Suara mesin genset meraung pelan di sudut posko. Sementara di dekatnya, beberapa relawan sibuk menyusun logistik ke dalam peti-peti plastik.

Di tengah kesibukan itu, sebuah papan tulis besar berdiri tegak. Peta kawasan Gunung Vamana yang dipenuhi garis-garis penanda dan lingkaran merah, ditarik tergesa hingga terbentang lebar.

“Tim satu masuk dari jalur timur, fokus menyisir lembah.”

“Tim dua standby di danau, jadikan itu titik evakuasi sementara.”

Suara komando saling bersahutan. Di balik kerumunan itu, Adrian berdiri diam. Matanya menyapu seluruh area—cepat, tajam, mencoba mencerna perubahan yang terjadi hanya dalam semalam. Dunia yang sempat terasa asing baginya, kini bergerak cepat.

“Nak,” sebuah suara berat menariknya kembali. Adrian menoleh. Di sana, Pak Dadang berdiri dengan rompi lapangan dan topi hitamnya. Wajahnya tampak garang, tapi sorot matanya penuh ketenangan.

“Apa kau sudah baikan?” tanyanya basa-basi.

“Ya. Kurang lebih,” jawab Adrian sekenanya.

“Terima kasih atas laporanmu waktu itu,” ujarnya singkat. “Selagi kamu tidur, kami semua di sini justru kurang tidur,” sindirnya sambil tersenyum tipis, sementara Adrian hanya terkekeh pelan.

“Kami sudah menyusuri jalur tempatmu kembali, bersama para pendaki yang mengantarmu waktu itu. Tapi ...” penjelasan itu tertahan sejenak.

“Bahkan dengan ratusan massa gabungan Tim SAR dan para relawan, jalur yang kau sebutkan itu ... tidak bisa kami temukan,” ungkapnya.

“Entah ini takdir, atau murni nasib sial. Tapi vegetasi di sana tertutup rapat oleh semak berduri tajam. Bahkan di beberapa titik, hanya ada jurang curam.”

“Seolah, jalur itu tidak pernah ada,” Pak Dadang melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Adrian.

“Seolah, mereka sedang menunggu sesuatu ...” ucapnya menatap tajam ke arah hutan yang masih berkabut, sebelum kembali melirik Adrian. “Atau ... seseorang.”

Angin pagi berembus pelan menyapu keheningan, mengibaskan ujung jaket para relawan yang berlalu lalang di belakang mereka.

“Kalau memang demikian, maka ... nggak sia-sia saya datang,” ucap Adrian mantap sembari tersenyum penuh arti.


​[07:15 WIB] Perbatasan Hutan — Awal Jalur

​Proses pencarian kini resmi dimulai. Adrian berjalan paling depan, didampingi oleh ayahnya yang menggendong carrier berat, Pigi, dan Pak Dadang. Di belakang mereka, puluhan anggota Tim SAR dan relawan mengekor dengan peralatan lengkap.

​Langkah kaki Adrian melambat saat mereka mencapai sebuah tanjakan yang dipenuhi semak belukar. Pak Dadang berhenti tepat di sampingnya, lalu menunjuk ke depan.

Lihat selengkapnya