VAMANA

Hazsef
Chapter #59

Kenyataan Pahit

​[12:15 WIB] Lembah Bukit — Hari Pertama Pencarian

​Suasana lembah terasa sunyi saat rombongan Tim SAR dan para relawan beristirahat. Atas ajakan sang ayah, Adrian, Pigi, dan beberapa relawan muslim menyempatkan diri untuk menunaikan salat Zuhur yang dijamak Asar di atas selembar terpal darurat.

​Di sudut posko sementara, Pak Dadang memperhatikan Adrian yang sedang melipat sajadah. Ia kemudian mendekati Pigi yang sedang meneguk air mineral.

​“Gi,” panggil Pak Dadang lirih. “Nanti kalau sudah jalan lagi, kamu ajak Adrian ngobrol.”

​Pigi mengernyitkan alis. “Hah? Kenapa, Pak?”

​“Sepertinya, tubuh temanmu itu masih belum lepas dari mode survival,” bisik Pak Dadang dengan wajah serius. “Adrenalinnya masih berada di tingkat ekstrem.”

“Maksud Bapak?” tanya Pigi lagi.

“Lihat dia! Dua hari dia pingsan di rumah sakit. Tapi begitu bangun, badannya langsung siaga penuh, seolah dia masih berkemah di hutan ini,” jelasnya.

“Sekarang, coba kamu perhatikan!” mata Pak Dadang melirik ke arah Adrian. “Di antara kita semua, cuma dia satu-satunya orang yang sama sekali gak berkeringat, bahkan jika napasnya terengah.”

​Pigi pun tertegun. Matanya menyipit saat memandangi Adrian yang tengah membantu merapikan barang bawaan ayahnya. Pergerakan pemuda itu tampak begitu santai dan energik, bagaikan pendaki yang sudah siap mendaki puncak.


​[09:30 WIB] Jalur Pedalaman — Hari Kedua Pencarian

​Perjalanan berlanjut keesokan paginya, tepat setelah sarapan. Mereka membelah hutan yang tampak tak terjamah oleh manusia, namun anehnya memiliki jalur setapak yang bersih, rapi, dan seakan terawat dengan baik.

​Sekitar tiga jam kemudian, Adrian mendadak menghentikan langkahnya di sebuah kanopi pohon yang terbuka. Matanya menyipit, menatap lurus ke cakrawala jauh di depan.

​“Pak Dadang, lihat!” seru Adrian antusias sambil menunjuk ke atas. “Ada asap membumbung! Mereka masih di sana! Mereka pasti lagi masak!”

​Melihat kepulan asap tipis yang membubung tinggi di kejauhan, semangat rombongan kembali terbakar. Itu adalah jejak kehidupan yang begitu nyata.

Tempo perjalanan pun langsung dipercepat. Adrian memimpin di depan dengan langkah yang kian memburu. Hatinya berdebar tak karuan. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kembali wajah teman-temannya.


​[14:45 WIB] Dasar Tebing Vamana

​Setelah menempuh delapan jam perjalanan yang panjang, sampailah mereka di dasar suatu tebing batu setinggi belasan meter.

Lihat selengkapnya