VAMANA

Hazsef
Chapter #42

Kebenaran

[15:30] Jalur Turun Hutan — Hari Ketujuh

Langkah kaki berderap cepat memecah keheningan sore di jalur bawah tebing. Adrian berlarian kecil tanpa henti, menerobos rimbunnya semak belukar dan akar pepohonan yang merintangi jalan. Ia berjuang keras mencari jalur tercepat untuk menembus batas hutan dan mencapai Base Camp.

​Meski beban di punggungnya kini hanya tersisa tas miliknya sendiri, napas sang ketua memburu hebat. Keringat membanjiri wajah dan sekujur tubuhnya, bahkan jauh lebih deras daripada saat ia harus memanggul Pigi.

​Di sela-sela embusan napasnya yang putus-putus, sebersit rasa salut dan haru menyelinap di dadanya. Ia baru menyadari betapa gilanya beban fisik yang dipikul oleh Indra dan Rozi di atas sana.

Teman-temannya berbesar hati membawa dua tas carrier besar di pundak mereka, menyusuri medan terjal berhari-hari tanpa mengeluh hanya demi meringankan bebannya. Pengorbanan itulah yang memompa kaki Adrian untuk terus melangkah maju.

​Matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu Asar hampir terlewati. Adrian akhirnya memperlambat langkah dan bersandar pada sebuah pohon pinus raksasa.

​Setelah napasnya mulai stabil, ia mengusapkan kedua telapak tangannya pada batang pohon pinus yang dipenuhi lumut basah, melakukan tayamum darurat.

Di tengah rimba yang asing dan buas, Adrian melaksanakan kewajibannya dalam diam, memohon keselamatan bagi teman-temannya yang tertinggal di atas tebing.

​Begitu salam terucap, ia segera bangkit. Mengingat semua perangkat elektroniknya masih mati total, Adrian kembali mengandalkan kompas analog dan sisa catatan peta yang ia gambar sebelumnya.

Ia pun kembali berlari membelah hutan, membawa beban harapan yang harus segera ia lunasi.


[17:15] Kedalaman Hutan Vamana — Hari Ketujuh

Jauh di kedalaman hutan yang temaram, keheningan dipecahkan oleh suara langkah-langkah kaki telanjang yang menyibak rerumputan. Rombongan gaib itu berhenti tepat di depan sebuah pohon beringin raksasa.

​Sang Putri berdiri mematung. Matanya yang tajam menatap gundukan daging bengkak yang tergeletak kaku di tanah. Ekspresi heran bercampur keengganan tersirat, terukir jelas di wajah cantiknya saat melihat jasad Putra yang mengenaskan.

“Kenopo de’e?”

(“Kenapa dia?”)

​Salah satu abdi setianya yang menunduk di dekat jasad itu segera menjawab pertanyaan yang dingin itu.

“Lare menika ... seda amargi keselak, Kanjeng Putri.”

(“Anak ini ... mati karena tersedak, Tuan Putri.”)

Pfftt.

​Sontak, tawa kecil mendadak lolos dan tertahan di bibir Sang Putri. Wibawanya sempat goyah sepersekian detik.

“Hah?”

(“Apa kau bilang?”)

“Balen.”

(“Coba ulangi sekali lagi.”)

Ekspresi Sang Putri langsung kembali datar, namun dengan sorot mata yang tampak sedikit julid dan ketus.

Lihat selengkapnya