VAMANA

Hazsef
Chapter #44

Keputusan

Setelah berhasil menarik perhatian Sang Putri, sosok jelmaan Pigi kembali berlutut dengan kepala tertunduk. Dua telapak tangannya menyatu dan diangkat setinggi dada, membentuk sikap hormat ala kerajaan.

“Pangampunten ingkang kathah, Gusti Kanjeng Putri. Hamba kira ... menika sampun cekap.”

(“Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Tuan Putri. Hamba rasa ... ini sudah cukup.”)

Tanpa bergeming, Sang Putri pun membalas aksi itu dengan satu pertanyaan yang seakan menyimpan amarah tertahan.

“Ginema ... punapa kula kedah mireng sampeyan?

(“Jelaskan ... kenapa aku harus mendengarmu?”) tanyanya ketus.

Abdi itu lalu menceritakan kalau ia pernah ikut terjun ke medan perang bersama teman-temannya. Bagaimana mereka berbagi cerita yang sama, menyantap hidangan yang sama, bahkan berjuang di medan yang sama.

Kehangatan yang ia temukan selama bersama dengan rombongan Adrian membuatnya sadar. Mereka yang tetap kompak, saling menjaga dan menyemangati satu sama lain ... begitu mirip dengan cara para prajurit menghabiskan malam sebelum mereka akan bertempur keesokan hari.

Perasaan yang hangat itu laksana kilau sebuah permata yang menyala di tengah kubangan lumpur penuh darah. Sebagian berjuang demi harapan yang seolah tak pernah padam, dan sebagian lainnya berkorban untuk memastikan harapan itu tetap hidup.

“Kula mboten faham. Napa hubungipun kaliyan sedaya menika? Piyambake bahkan dede prajurit.”

(“Aku tidak mengerti. Apa hubungannya dengan semua ini? Mereka bahkan bukan prajurit.”)

Alis Sang Putri mengerut.

“Nanging, piyambake sedaya ajèga pejuang, Kanjeng Putri. Kita sedaya kedah ngabektosipun”

(“Namun, mereka tetaplah pejuang, Tuan Putri. Dan kita harus menghormatinya.”)

Abdi tersebut menjawab dengan santun dan sopan, hingga mampu membuat Sang Penguasa Vamana menurunkan tangannya perlahan.

“Lantas ... kaliyan cara menapa kita sedaya ngabekti para pejuang menika?”

(“Lalu ... dengan cara apa kita menghormati para pejuang ini?”) tanya Sang Putri lagi.

“Bebas milih kados pundi badhe dhawah, yaiku kemewahan kagem piyambakipun ingkang merangkak wonten medan perang.”

(“Bebas memilih bagaimana dirinya akan gugur, adalah kemewahan tersendiri bagi mereka yang merangkak di medan perang.”)

Abdi tersebut menjelaskan dengan sabar, namun kembali disambut dengan pertanyaan lain dari Sang Putri.

“Napa sampeyan nyriyosi kula nilaraken piyambakipun seda?”

(“Apa kau memberitahuku untuk membiarkan mereka mati?”)

“Hamba namung nedha kemirahan manah murih piyambake sedaya saged nepati janjinipun.”

(“Hamba hanya meminta kemurahan hati untuk membiarkan mereka menepati janjinya.”)

Suasana hening sesaat. Sang Putri tampak memikirkan perkataan abdinya dengan serius, sebelum pandangannya beralih ke Indra dan Rozi.

Lihat selengkapnya