[17:45] Suatu Belantara Hutan — Hari Ketujuh
Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga keunguan di batas cakrawala yang tertelan lebatnya kanopi hutan.
Di tengah belantara berkabut tipis yang mulai meremang, langkah Adrian tampak tertatih-tatih. Kakinya yang terasa berat ia seret dengan sisa tenaga yang kian menipis.
Sambil mengatur napas yang memburu, ia meraba saku samping tasnya, mencari sisa makanan kecil untuk sekadar mengganjal perut yang melilit. Ia terus memacu langkahnya melewati hutan sepanjang sore, berpacu dengan waktu.
Namun, naluri dan pengalamannya sebagai pendaki memperingatkannya. Sebentar lagi malam akan tiba, namun ia tak bisa mengandalkan penerangan apa pun selain cahaya bulan.
Memaksakan diri terus berjalan atau merakit tenda saat hari sudah gelap tentu sangatlah berisiko. Tiada yang tahu kapan hewan liar atau ancaman lain muncul dari balik semak belukar.
Setelah menemukan tempat yang dirasa ideal, Adrian akhirnya menjatuhkan tasnya sebuah area datar di bawah pohon rindang. Ia pun bergerak sigap mendirikan tenda, selagi sisa cahaya senja masih membantunya melihat frame dan pasak.
Begitu tendanya berdiri kokoh dan kegelapan mulai menyelimuti seisi hutan, Adrian mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Setelah tenaganya berangsur pulih, ia pun beranjak keluar untuk bertayamum, lalu menunaikan ibadah salat Magrib dan Isya yang dijamak.
Baru setelah seluruh kewajibannya selesai, ia masuk ke dalam tenda, merebahkan tubuhnya yang nyaris remuk untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
[20:55] Suatu Belantara Hutan — Hari Ketujuh
Di luar tenda, malam semakin pekat. Tanpa disadari oleh Adrian yang mulai terlelap, sesosok wanita cantik jelita melangkah anggun tanpa suara.
Langkahnya terhenti di antara semak dan bayangan pepohonan, sekitar sepuluh meter di samping tenda Adrian. Itu adalah wujud Sang Penguasa Vamana.
“Menika bebingah alit.”
(“Ini adalah hadiah kecil.”)
Wanita berkebaya hijau itu menatap tenda tersebut sejenak, sebelum ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
Asap tipis kehijauan merayap lembut dari balik lengannya, menjalar di kulitnya yang agak pucat, hingga menyelimuti jemarinya yang lentik dengan kuku-kuku yang dicat merah.
Sedetik kemudian, Sang Putri meniup lembut telapak tangannya. Asap tipis kehijauan yang sedikit menyala dalam gelap berpadu dengan kerlipan partikel-partikel cahaya kecil, beterbangan ke udara layaknya sekawanan kunang-kunang.
Sebagian asap itu menyelimuti bagian luar tenda, sementara sebagian lainnya menembus masuk ke dalam dan meresap perlahan ke pori-pori kulit Adrian yang tengah terlelap.