[09:30] Jalur Lembah Asri — Hari Kedelapan
Adrian terus memacu kakinya menyusuri jalur tanah berkelok yang baru saja tersingkap. Ia sesekali berhenti hanya untuk sekadar mengatur napas yang memburu. Beberapa kali, kakinya bahkan sempat tersandung akar hingga jatuh tersungkur.
Namun, ia langsung bangkit dan kembali berlari tanpa memedulikan luka lecet di lututnya, seolah ia sedang mati-matian menghindari bom waktu yang terus menghitung mundur di belakangnya.
[12:15] Batas Hutan — Hari Kedelapan
Ketika terik matahari menyengat ubun-ubun, langkah Adrian yang tertatih-tatih terpaksa terhenti. Keringat membanjiri tubuhnya, hingga kaus flanelnya basah kuyup menempel di kulit.
Dadanya naik-turun dengan cepat laksana balon yang kembang-kempis kehabisan udara. Napasnya terdengar berat dan serak, mirip seperti penderita asma.
Ketika kakinya yang gemetar akhirnya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, pemuda itu berakhir merebahkan diri di bawah bayangan pohon besar yang rindang.
Niat awal, Adrian hanya ingin memejamkan mata dan beristirahat sejenak untuk menstabilkan detak jantungnya, hingga tanpa sadar ... rasa letih yang luar biasa itu menelan kesadarannya.
Tak lama berselang, angin sepoi berembus pelan dan teratur, seolah turut membantu menyeka rasa lelah pemuda itu.
Lalu di momen yang sunyi itu, sebuah siluet samar—terlalu halus untuk disebut wujud, namun cukup jelas untuk meninggalkan jejak kehadiran—terlihat mengintip dari balik bayangan pepohonan.
Angin mendesir pelan, membawa embusan asap kehijauan tipis yang disertai serbuk partikel cahaya kecil. Asap magis itu mengendap dan meresap lembut ke dalam pori-pori tubuh Adrian.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh dan baju Adrian yang sebelumnya basah kuyup oleh peluh, kini berangsur mengering. Wajahnya yang pucat pasi karena kelelahan, perlahan kembali menampilkan rona kulit aslinya.
Setelah keajaiban itu usai, siluet itu kembali menghilang ke balik bayangan gelap pepohonan, sebelum embusan angin menyapu bersih jejaknya dari alam fana.