VAMANA

Hazsef
Chapter #47

Desa Sitala

[19:15] Gerbang Perkampungan — Hari Kedelapan

Malam telah datang saat Adrian tengah berjuang menuruni lembah. Segala bentuk kemegahan yang sempat dipamerkan alam, kini tertelan sepenuhnya oleh kegelapan.

Sekitar satu jam kemudian, langkah Adrian perlahan melambat sewaktu ia akhirnya sampai di lokasi yang sempat membuat tekadnya kian membara.

​Tepat di hadapannya, berdiri sebuah gapura dari susunan batu andesit yang kokoh. Obor menyala terang di tiap sisi gapura itu, menyingkap asap dupa dari beberapa batang kayu gaharu yang menyebarkan aroma wangi nan menenangkan.

​Dengan napas terengah dan langkah yang kembali tertatih, Adrian berjalan masuk melewati gerbang itu. Pandangannya lalu menyapu ke sekeliling. Sama sekali tak ada aliran listrik di perkampungan terpencil itu.

Di antara jalanan tanah yang belum dicor, penerangan sepenuhnya mengandalkan nyala obor bambu. Meski begitu, tempat itu tampak rapi dan bersih, seolah-olah para penduduk merawatnya setiap hari.

Sementara dari celah rumah warga yang terbuat dari tatanan kayu dan anyaman bambu, terpancar cahaya redup keemasan dari nyala lilin atau lampu cempluk (pelita minyak).

​Untuk sesaat, Adrian membeku di tempatnya. Suasana sunyi, temaram, dan aroma kayu bakar di tempat itu ... entah kenapa membangkitkan luapan perasaan yang nostalgia.

Sebuah memori lama tentang kampung halaman mendiang neneknya, tempat yang selalu ia kunjungi tiap liburan sekolah saat ia masih kecil.​Namun, lamunan sendu itu seketika buyar saat suara langkah kaki perlahan mendekat.

Seorang wanita tua membuka pintu salah satu rumah, lalu berjalan menghampiri Adrian. Di tangannya yang keriput, sebuah obor berdiri tegak, menopang api kecil yang sesekali bergoyang saat tertiup angin malam.

​“Nak, kenapa kamu berdiri di situ? Apa kamu tersesat?” sapanya dengan dahi berkerut.

​Pada jarak sedekat itu, Adrian akhirnya bisa melihat sosok nenek itu dengan lebih jelas. Meski tampak renta dan tubuhnya sedikit bungkuk, wanita tua itu masih sanggup berjalan tegak tanpa bantuan tongkat.

Rambutnya yang telah memutih disanggul rapi di bagian belakang, selaras dengan baju kebaya hitam yang membalut tubuhnya. Sekilas, gaya berpakaiannya benar-benar mengingatkan Adrian pada sosok mendiang neneknya.

Lihat selengkapnya