Setelah menuntun Adrian ke kediamannya, nenek tua itu lalu mempersilakan tamunya melangkah masuk melewati ambang pintu kayu rumahnya, kemudian menunjuk sebuah kamar kosong yang bersih dan rapi sebagai tempat beristirahat.
“Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk bertanya,” ujarnya ramah, memecah kecanggungan sang tamu.
Namun, satu permintaan yang pertama kali keluar dari mulut Adrian, bukanlah makanan atau minuman, melainkan permintaan izin untuk membersihkan diri.
Selain badannya yang sudah kotor dan lengket oleh peluh selama berhari-hari, ia juga belum menunaikan kewajiban Magrib dan Isya.
Sang nenek tersenyum maklum. Ia mengangguk pelan, lalu menuntun Adrian ke sebuah ruangan berpetak—sekitar 3x3 meter—di bagian belakang rumah.
Alih-alih ubin, lantai area bilik mandi itu beralaskan batuan sungai kecil seukuran dua ruas jari kelingking orang dewasa. Tidak mewah, namun justru terasa lebih nyaman dan autentik.
Di dinding ruangan tersebut, terdapat sistem perpipaan dari bambu utuh yang memanjang dan dialiri air hingga ke halaman depan.
Khusus di bilik itu, batang bambu utamanya diselipkan sepotong bambu berukuran lebih kecil untuk mengucurkan air jernih yang terus mengalir ke dalam sebuah kendi penampungan berukuran besar.
“Para warga Sitala menyambung pipa-pipa bambu ini untuk mengalirkan air langsung dari sumbernya,” jelas nenek tua itu dengan nada bangga.
“Tepat dari ujung sana,” imbuhnya sembari menunjuk ke arah batas penghujung desa.
Adrian mengikuti arah telunjuk tersebut. Namun, matanya tak mampu menangkap apa pun selain kegelapan yang pekat, bersembunyi di balik batas cahaya temaram obor jalan yang berjejer rapi di tiap halaman depan rumah warga.
“Basuhlah dirimu, Nak ... selagi aku menyiapkan makan malam di dapur,” pesan nenek itu ramah.
“Ah, i-iya, Nek,” ucap Adrian, masih dengan nada sungkan. “Terima kasih ya ... umm—”
Tepat di momen itu, Adrian terdiam. Ia baru saja menyadari ketidaksopanannya yang lupa menanyakan nama sang tuan rumah.
“Sulasmi,” ucapnya sembari mengukir senyum hangat. “Itulah namaku.”
“Ah—m-maaf,” ucap Adrian sambil menunduk sungkan. “Juga ... terima kasih, Nenek Sulasmi,” ralatnya buru-buru.
Wanita tua itu pun senyuman tipis. Ia membalas perkataan Adrian dengan anggukan pelan, sebelum berbalik pergi dan melangkah perlahan menuju area dapur. Tak lama berselang, suara gesekan dan ketukan ritmis terdengar dari arah dalam.
Alis Adrian yang sempat mengerut bingung, kini terangkat naik. Kakinya perlahan melangkah mengikuti arah suara itu. Ketika ia sampai di penghujung ruang dekat dapur, barulah ia mengangguk paham.