Malam itu, angin dingin berdesir pelan menyapu Desa Sitala. Api-api obor bambu bergoyang, menari di atas gulungan kain bekas yang dibasahi minyak kelapa.
Kendati demikian, hanya suara burung hantu dan derik kumbang hutan yang sesekali terdengar memecah keheningan.
Tak terlihat satu pun tanda-tanda kehidupan di luar ruangan dari desa terpencil itu, selain pijaran cahaya jingga yang mengintip dari sela-sela ventilasi rumah warga, tak terkecuali di kediaman Nenek Sulasmi.
Tikar pandan yang tadinya penuh dengan hidangan lezat di ruang tamu, kini terlihat bersih. Bahkan tak sedikit pun noda atau remah-remah nasi yang tersisa di atas alas sederhana itu.
Sebagai tamu yang numpang bernaung, Adrian pun berinisiatif membantu membereskan wadah-wadah dari tanah liat itu dan mengangkutnya ke dapur.
Namun, baru saja ia berjongkok dan berniat menumpuk piring-piring kotor itu, aksinya langsung dihentikan oleh Nenek Sulasmi.
“Tidak apa, Nak. Letakkan di situ saja,” cegahnya santai.
“T-tapi, Nek—”
“Sudah, kamu istirahat sekarang. Perjalananmu besok masih sangat panjang,” tegas Nenek Sulasmi lembut, sembari menarik pelan lengan Adrian agar pemuda itu kembali bangkit berdiri.
“Biarlah ... ini jadi hiburan kecil bagi wanita tua yang kesepian ini,” tambahnya sambil memamerkan senyum tipis yang tulus.
“Bicara soal kesepian ...” alis Adrian sedikit mengerut. Rasa sungkannya kini bercampur dengan penasaran.
“Kalau boleh tahu, ke mana suami dan anak Nenek? Apa mereka sudah tidur di kamar lain?” tanyanya penasaran, mengingat sejak tadi ia tidak melihat siapa pun selain wanita tua itu.
Nenek Sulasmi terdiam beberapa saat. Pundaknya yang sedikit bungkuk terlihat naik perlahan, menahan tarikan napas panjang, sebelum akhirnya turun saat beliau hendak menjawab.
“Suamiku ... tewas diterkam macan kumbang,” ucapnya pelan, namun getar di suaranya tak bisa disembunyikan. “Bertahun-tahun lalu, setelah ia berpamitan untuk memanen dua sisir pisang di pinggir hutan saat malam purnama.”
Suasana di ruangan itu mendadak hening. Adrian membeku. Lidahnya terasa kelu. Kini, ia akhirnya paham alasan mengapa Nenek Sulasmi bersikeras melarangnya melintasi jalur hutan di malam hari.
Vamana bukan cuma hutan tropis di dataran tinggi yang sakral, melainkan habitat nyata bagi makhluk-makhluk buas yang menjaga keseimbangan alamnya sendiri.
“Dan anakku satu-satunya, dia ... pergi merantau,” lanjut Nenek Sulasmi. Tatapan matanya yang semula meredup, perlahan kembali melunak. “Namun, sampai sekarang tak kunjung kembali.”
Pada momen itu, tatapan Adrian bertaut ringan dengan mata keriput Nenek Sulasmi. Tatapan wanita yang renta itu, menyimpan kerinduan mendalam yang tak terucap.