[14:15] Padang Sabana Berkabut — Hari Kesembilan
Langkah demi langkah, Adrian terus mengikuti ke mana sang jalak hitam melompat dan mengepakkan sayapnya. Pemuda itu dituntun menembus jalur menanjak yang masih tertutup kabut tebal.
Perlahan namun pasti, ia diarahkan menuruni sebuah jalur curam pada salah satu punggungan bukit yang tanahnya agak berlumut dan licin.
Di tengah fokusnya menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir, ingatan Adrian perlahan memutar kembali rentetan pesan terakhir dari Nenek Sulasmi di Desa Sitala tadi pagi.
Adrian telah mendengar suara gemuruh dan melihat kabut turun, namun ia masih bingung soal peringatan “cahaya” yang misterius itu.
Sambil terus melangkah, mata Adrian memindai setiap sudut di sekitarnya. Sampai akhirnya, ia menangkap satu detail kecil yang tampak sepele, namun seakan menampar telak kesadarannya.
Maksud dari “jangan ikuti cahaya” itu ... ternyata bukan sekadar kiasan kosong belaka, melainkan penunjuk arah yang jelas dan sederhana.
Alih-alih mengikuti arah datangnya sinar matahari yang menembus kabut, burung jalak itu justru menuntunnya melewati arah jatuhnya bayangan. Jika matahari condong ke kanan, maka burung itu membawanya melangkah ke sisi kiri yang lebih gelap.
Adrian baru menyadari kecerdasan taktik survival itu setelah pikirannya mulai rileks, sehingga ia mampu lebih observatif melihat sekitar.
Sebelumnya, ia hanya fokus sekadar menghafal jalur dan meninggalkan jejak—goresan tanda panah menggunakan pisau tajam—pada tiap batang pohon di persimpangan.
Ia ingin menandai jalur itu, supaya nantinya lebih mudah menunjukkan jalan menuju ke tempat teman-temannya bersama Tim SAR.
Perjalanan dalam hening itu terus berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit. Udara yang semula terasa berat dan menyesakkan dada, perlahan mulai terasa lebih ringan.
Lalu, tepat ketika kakinya menjejakkan langkah di sebuah dataran landai, kabut putih yang sedari tadi mengurungnya perlahan tersingkap. Embusan angin dingin yang segar seketika menerpa wajahnya yang kotor dan tirus.
Di hadapannya, terbentang sebuah danau besar yang airnya begitu jernih dan tenang. Permukaannya yang memantulkan birunya langit cerah bak cermin raksasa, langsung menyita perhatiannya.
Itu adalah Danau Taman Hidup. Sebuah spot berkemah terakhir—seperti yang pernah dijelaskan oleh Pak Wandra berhari-hari lalu—sebelum mereka turun menuju Base Camp Sarkara yang jarak normalnya memakan waktu sekitar empat hingga enam jam perjalanan.