VAMANA

Hazsef
Chapter #53

Pesan

[21:55] Suatu Belantara Hutan — Hari Kesebelas

Malam telah datang, menyelimuti seisi hutan dengan kegelapan yang membawa embusan angin dingin. Suara burung hantu dan kumbang hutan seolah menjadi pengantar tidur diantara keheningan yang menenangkan.

Kruuk ...

Suara perut yang cukup nyaring terdengar di antara tarian api unggun dan sebuah tenda yang berdiri tegak. Tepat di pintu tenda, duduklah Indra dan Rozi yang sedang menatap api unggun sembari menunggu berita dari ketua mereka.

“Si Adrian ... kabarnya gimana ya?” Rozi tiba-tiba membuka percakapan, suaranya sedikit khawatir.

Indra pun menoleh. Ia terdiam sejenak, sebelum helaan napas panjang keluar dari mulutnya. “Gak tau, Zi,” jawabnya singkat, lalu kembali menatap ke arah hutan yang gelap di tepi jurang. “Moga aja ... dia nggak kenapa-napa.”

Pada momen itu, sebuah angin dingin tiba-tiba berembus pelan, menerpa wajah letih keduanya hingga membuat mereka refleks menutup mata.

“Adrian, pemimpinmu ...”

Saat angin itu mereda, Indra dan Rozi pun membuka mata, lalu mendapati sosok Sang Putri tiba-tiba sudah berdiri anggun di seberang api unggun.

“Sampun tumbang.”

(“Telah tumbang.”)

Sontak, mata Indra dan Rozi terbelalak. Mulut mereka refleks mengucap kata spontan. “Eh?”

“Saksampune terus mlajeng salebetipun kalih dinten, piyambakipun klenger ing enggen siro ngawiti radin.”

(“Setelah berlari tanpa henti selama dua hari, dia pingsan di tempat kalian memutuskan untuk memulai perjalanan.”)

Indra pun terdiam. Rahangnya mengeras. Seolah ia bisa membayangkan sendiri bagaimana tubuh itu akhirnya runtuh.

“Dados ... piyambakipun rahajeng?”

(“Jadi ... dia selamat?”) tanya Indra.

“Nggih. Nanging badanipun mboten saged kuwawi kala kajenge wangsul mriki.”

(“Ya. Tapi tubuhnya tak mampu bertahan saat ia berniat kembali menjemput kalian di sini.”)

Jawaban Sang Putri membuat suasana hening sejenak. Hanya suara kobaran api unggun yang terdengar lebih keras dari biasanya.

Tak lama berselang, sebuah senyum tipis terukir di wajah Indra. Ia kemudian menoleh pelan ke arah Rozi yang tidak memahami satu pun yang mereka perbincangkan.

“Zi, Adrian ... dia selamet!” ucapnya dengan wajah merekah.

“Wah, seriusan, Ndra?!” Rozi agak tersentak, sebelum senyuman lebar menghiasi wajahnya.

Lihat selengkapnya