VAMANA

Hazsef
Chapter #55

Mimpi

​[??:??] Bukit Varuna

​Langit di atas Bukit Varuna berwarna oranye keemasan, jenis warna yang hanya tercipta saat matahari sore berpadu dengan udara pegunungan yang bersih.

Tidak ada kabut yang menyesakkan, tidak ada rintik hujan yang membawa petaka. Di hamparan rumput hijau itu, tawa pecah menyatu dengan suara desir angin yang tenang.

​Sembilan pendaki muda duduk melingkar. Di tengah-tengah mereka, berbagai makanan ringan terbuka lebar. Julita tertawa renyah sambil membagikan biskuit, sementara Edo sibuk mengatur posisi kamera untuk berfoto bersama.

​“Ide lu mantep, Dri,” celetuk Edo sambil merangkul pundak Adrian. “Ini ... liburan paling berkesan yang pernah gue punya.”

​Satu per satu dari mereka mulai mengangguk, mengucap syukur, bahkan beberapa meminta maaf karena sempat mengeluh selama pendakian.

Adrian tersenyum lebar, dadanya terasa penuh oleh kebahagiaan yang tulus. Ia merasa berhasil sebagai pemimpin. Ia berhasil membawa teman-temannya melihat keindahan ini.

​“Santai aja,” balas Adrian sambil menepuk-nepuk pundak Indra yang duduk di sebelahnya. “Pulang dari sini, kita bakal punya cerita yang bakal berkesan seumur hidup.”

​Semua orang tersenyum hangat. Namun, saat senja mulai merayap, Indra tiba-tiba menoleh ke arah tas di dekat tenda.

​“Dri, Gi ... kompor portabelnya mana? Kalian yang bawa kan?” tanya Indra. “Gua mau masak air buat bikin kopi nih.”

​Adrian dan Pigi pun saling berpandangan. “Oh iya, bentar!” balas Adrian santai, lalu mulai membongkar tasnya. Namun tak ada apa pun di sana, begitu pun di tas Pigi.

Tak lama berselang, Adrian menepuk jidatnya dengan keras, sebuah ingatan muncul seketika. “Waduh! Sorry, layaknya kompornya ketinggalan di aula desa pas kita cek gas tadi.”

“Yaaahhh ... gimana sih, Dri?”

​Desis kekecewaan ringan terdengar di antara teman-temannya, sebelum mereka menyindir sambil tertawa, membuat Adrian dan Pigi merasa amat malu.

“Ya udah, kalian tunggu sini ya,” ucap Adrian sambil berdiri. “Gua sama Pigi turun bentar buat ambil kompor. Nggak lama, kok!”

Indra mengangguk, lalu diikuti oleh teman-temannya yang lain. Namun, kali ini mereka tidak menjawab. Hanya menatap Adrian sedikit lebih lama dari biasanya.​

Tidak ada amarah di wajah mereka. Sebaliknya, senyum mereka justru tampak lega, seolah mereka memang mengharapkan Adrian untuk pergi turun saat itu juga.

Saat Adrian dan Pigi mulai melangkah, sebuah suara menghentikan mereka.

​“Dri!” panggil Julita. “Kalau udah nyampek bawah, gue titip pesen buat emak gue yakk?” pintanya dengan nada riang.

Adrian pun mengernyitkan alis. “Hah? Emak lu? Di base camp sana?” tanyanya memastikan.

Lihat selengkapnya